ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Komunitas pegiat seni Museum Akar Nuswantara yang berkolaborasi dengan Hanara Well Being Center menggelar rangkaian kegiatan bertema Nuswantara Emas melalui permainan interaktif dan workshop, pada hari Sabtu dan Minggu, 6-7 Desember 2025.
Dalam gelaran ini, salah satu penyelenggara kegiatan, Yosita, menegaskan bahwa seluruh aktivitas yang disusun memiliki tujuan besar: mengajak masyarakat rindu kembali pada kejayaan Nusantara. Untuk itu, perlu dipahami bukan sekadar sebagai tempat, tetapi sebagai jati diri manusia Nuswantara.
Nusantara memiliki makna tempat sedangkan Nuswantara berarti manusia.
ADVERTISEMENT
“Kita semua di sini merindukan Nusantara kembali ke zaman keemasannya,” ujar Yosita dalam wawancara.
“Tapi yang harus kembali itu bukan hanya tempatnya, melainkan manusianya. Kita ini manusia Nuswantara, dan harus menjadi Nuswantara lagi.” lanjutnya.
Menurut Yosita, arti menjadi Nuswantara adalah menjadi individu yang mampu menemukan jati dirinya melalui potensi sel yang ia miliki. Dengan jati diri yang bangkit, seseorang dapat berkarya secara optimal. Inilah yang menjadi dasar kegiatan Nuswantara Emas.
“Mampu berkarya optimal itu kuncinya. Ada tiga parameter penting untuk mencapainya. Hari ini, kita membahas salah satu parameter itu: vortex”, ucapnya.
“Kami percaya bahwa bila seni kembali ke aslinya, karya-karya tersebut tidak hanya indah secara visual-tetapi juga memiliki kemampuan untuk menguatkan potensi terbaik tubuh.
Seperti pada seni Nuswantara yang dilakoni leluhur bangsa, juga pada karya-karya para maestro seniman sejati dunia terdahulu, seperti Van Gogh, Gauguin, Monet, dan sebagainya, setelah diukur ternyata memiliki parameter vortex yang selaras alam.
Itulah yang menjadikan karya-karya tersebut indah, karena membuat indah siapapun yang menikmatinya. Vortex adalah suatu parameter karya yang belum umum dipahami di dunia seni, tapi dipahami oleh body intelligence (potensi sel) tubuh. Sehingga, seni itu indah bila berkualitas vortex yang menguatkan potensi sel tubuh penikmat seninya sampai harmoni.”

Dengan tes potensi sel, dapat dibuktikan bahwa karya seni Van Gogh yang asli dan palsu memiliki kualitas yang berbeda. Karya asli Van Gogh dengan vortex yang selaras dengan alam, indah karena dapat menguatkan body intelligence siapapun yang melihatnya sampai harmoni. Hal yang tidak terdapat pada karya palsu.
Konsep vortex yang diangkat dalam workshop dan permainan hari ini merupakan nilai dasar yang penting dalam berkarya seni. Yosita menjelaskan, seorang seniman mampu menghadirkan karya yang indah dipandang tapi belum tentu optimal.
Untuk optimal berkarya, seseorang perlu mengenal konsep vortex sebagai parameter untuk mencapai harmoni. Maka, saat seorang seniman memilih untuk berkarya dengan niat tulus untuk sesama, saat itulah parameter vortex yang selaras alam akan mulai hadir dan siap mengantarkan setiap karyanya optimal karena harmoni. Pilihan memasukkan parameter vortex akan mengutuhkan manfaat karya mereka.
Apabila harmoni tercapai, maka seniman beserta penikmat seni akan saling menguatkan. Potensi sel tubuh yang menguat mampu menghadirkan kebahagiaan, menginspirasi, meningkatkan kualitas hidup yang diawali dengan peningkatan stamina, juga membangkitkan jati diri penikmat karyanya.
Jati diri adalah inti kekuatan potensi sel. Saat jati diri seseorang bangkit, maka bukan hanya ia tidak akan melupakan siapa dan darimana ia berasal, harmoni sebagai adab pun akan bangkit. Seseorang akan otomatis selalu mampu menjadikan harmoni sebagai pencapaian dalam setiap karyanya.
Harmoni adalah kondisi yang dibutuhkan oleh setiap sel tubuh untuk berfungsi optimal. Itu sebabnya, karyanya selalu indah. Itu sebabnya, leluhur bangsa mengingatkan pentingnya menjaga jati diri agar selalu mampu meraih sukses sejati dalam berkarya.
Labirin Jejak Nuswantara
Salah satu rangkaian utama Nuswantara Emas adalah Labirin Jejak Nuswantara. Meski tampak seperti permainan, unsur filosofis, sejarah, budaya, seni, dan sains menjadi kunci dari pengalaman tersebut.
Labirin tersebut bersifat interaktif dan mengajak peserta mengalami langsung perjalanan menemukan jati diri. “Ikuti saja permainannya, agar merasakan sendiri.” ujarnya.
Dalam wawancara, Yosita juga menyinggung konteks sejarah Nusantara yang pernah mencapai masa kejayaan, seperti era Prabu Niskala Wastu Kancana dan Majapahit pada tahun 1400-an. Wilayah Nusantara saat itu memiliki pengaruh besar hingga ke sebagian Asia.

budaya, seni, dan sains, mengajak peserta mengalami langsung perjalanan menemukan jati diri.
“Apabila potensi sel seseorang kembali ke level Nuswantara, ia mampu menemukan jati dirinya dan mampu berkarya dengan optimal. Ini adalah harapan untuk kebangkitan Era Nuswantara Emas. Era harmoni, aman, damai, makmur, dan jaya berkat adab yang indah dari rakyatnya.”
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






