ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – SD Dewi Sartika, sekolah yang merupakan warisan langsung dari tokoh pendidikan perempuan Jawa Barat, Raden Dewi Sartika, terus mempertahankan nilai perjuangan sang pelopor melalui penerapan pendidikan inklusi dan pelestarian budaya Sunda. Hal itu disampaikan Kepala SD Dewi Sartika, Lies Widia (49), saat ditemui pada Jumat (5/11/2025).
Lies yang telah mengajar sejak 2010 menuturkan, meski jumlah siswa tidak sebanyak sekolah lain, solidaritas dan rasa saling menghargai di lingkungan sekolah sangat kuat, terutama terhadap Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK).
“Anak PDBK nyaman dan aman di sini. Kami sekolah inklusi, menerima siswa dengan berbagai karakteristik disabilitas,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Menurut Lies, visi pendidikan Raden Dewi Sartika—cager, bager, pinter, tursinger—masih menjadi landasan pengembangan program sekolah. Jika pada masa awal sekolah dikenal dengan pembelajaran menenun, menjahit, dan membatik, kini penguatan budaya Sunda menjadi identitas utama.
Beragam ekstrakurikuler disediakan, mulai dari angklung, karawitan, pupuh, hingga degung. Setiap pagi, setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, seluruh siswa wajib menyanyikan lagu Dewi Sartika serta degung khas sekolah.
“Anak-anak sekarang sudah hafal lagu dan degung Dewi Sartika karena setiap hari didengar. Guru-gurunya juga harus ikut menjaga tradisi itu,” kata Lies.
Sebagai sekolah inklusi, SD Dewi Sartika menerapkan penyesuaian kurikulum bagi siswa PDBK. Penilaian akademik disesuaikan dengan kemampuan nyata agar tetap adil dan manusiawi.
“Kalau kemampuan akademiknya hanya 60, tidak mungkin dipaksa 75 seperti siswa reguler. Penilaiannya berbeda,” jelasnya.
Untuk menggali minat dan bakat siswa, sekolah menyediakan berbagai ekstrakurikuler seperti literasi, angklung, futsal, dan tahfiz. Siswa bebas memilih kegiatan sesuai ketertarikan, namun pramuka dan angklung diwajibkan sebagai dasar pembentukan karakter.
Lies juga menyoroti sejarah panjang SD Dewi Sartika yang berdiri pada 16 Januari 1904 di Bandung. Sebagian ruang kelas asli masih dipertahankan dan kini dimanfaatkan sebagai living museum. Meja-meja tua, ruang kelas bersejarah, serta bangunan asli dijaga agar tetap otentik.
Namun, ia mengaku perhatian pemerintah terhadap bangunan bersejarah tersebut masih minim.
“Saya sedih kalau ada orang Bandung sendiri tidak tahu siapa Dewi Sartika. Padahal beliau punya sekolah nyata yang masih kita jaga sampai sekarang,” ujarnya.
Lies berharap media dan pemerintah dapat memperkuat kembali figur Dewi Sartika sebagai pahlawan pendidikan yang berasal dari Jawa Barat.
“Beliau satu-satunya tokoh perempuan yang benar-benar mendirikan sekolah nyata dan masih bertahan hingga kini. Kita semua berutang pada perjuangannya,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






