ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Di sebuah rumah tua bergaya kolonial Belanda di Kota Bandung, aroma kertas lama dan suasana rumahan langsung menyambut setiap pengunjung yang memasuki Perpustakaan TB Hendra. Taman bacaan swasta yang berdiri sejak 1967 ini menjadi salah satu perpustakaan tertua yang masih bertahan hingga kini.
Di balik keberlangsungannya selama hampir enam dekade, sosok Ibu Atie Hendra (60) menjadi figur kunci yang menjaga dan merawat warisan keluarga tersebut. Ia merupakan generasi kedua yang melanjutkan perjuangan mertuanya, Juliana Huei atau akrab dipanggil Oma Yul.
Cikal bakal perpustakaan ini bermula dari perhatian Oma Yul kepada putranya, Hendra. Pada masa itu, Oma Yul bekerja sebagai model sekaligus pegawai BUMN.
ADVERTISEMENT
Kesibukan membuatnya harus menitipkan anaknya kepada asisten rumah tangga, hingga ia merasa sang anak kurang terurus. Keputusan berhenti bekerja pun diambil, dan dari waktu yang lebih banyak dihabiskan di rumah, lahirlah ide untuk membuka taman bacaan kecil di garasi.
“Awalnya kecil saja, di garasi sebelah yang sekarang dipakai barista,” kenang Ibu Atie. Seiring meningkatnya peminat, perpustakaan dipindahkan ke bagian tengah rumah pada 1980 dan dipugar total pada 1982 agar lebih luas.
Pada masa awal berdiri, perpustakaan ini hanya dikunjungi warga sekitar. Namun koleksi yang terus bertambah dan promosi dari mulut ke mulut membuat anggotanya merambah hingga luar Bandung.
“Dulu sampai 10 ribu anggota. Bahkan ada yang dari Jakarta, Cirebon, Garut, Tasik. Pinjam dan mengembalikannya pakai kurir,” ujar Ibu Atie.
Di tengah banyaknya taman bacaan yang tutup akibat perkembangan zaman, Perpustakaan Hendra tetap bertahan dan kini disebut sebagai perpustakaan swasta tertua di Bandung.
Keistimewaan perpustakaan ini terletak pada koleksi bukunya yang tergolong vintage. Mulai dari buku anak-anak klasik seperti Lima Sekawan, Asterix, komik Tintin, hingga novel-novel era 1950–1960.
“Kita masih punya buku terbitan 1957. Ada lemari khusus untuk buku-buku tua, bahkan yang terbit di awal 1900-an,” kata Atie. Karena kondisi yang sudah sangat rentan, sejumlah buku tidak boleh dipinjam dan hanya dapat dibaca di tempat.
Merawat ribuan koleksi lawas bukan pekerjaan mudah. Perubahan suhu, kelembapan, dan perawatan rutin menjadi tantangan utama. “Ruangan tidak boleh terlalu dingin atau lembap. Buku juga harus terus dibersihkan,” jelasnya.
Masalah lain yang kerap muncul adalah buku yang tidak kembali. “Ada yang minjam Bumi Manusia, tidak kembali. Padahal harganya sekarang jutaan,” tambahnya. Karena itu, keanggotaan baru kini belum dibuka dan peminjaman dilakukan sangat selektif.
Minat baca buku fisik sempat menurun, terutama saat pandemi COVID-19. Namun Perpustakaan Hendra tetap berusaha relevan dengan membentuk tim kecil pengelola media sosial dan berbagi konten di TikTok.
“Setelah aktif di media sosial, banyak yang penasaran. Pengunjung kembali ramai,” ujar Ibu Atie.
Perpustakaan Hendra berencana memperluas area hingga ke bagian belakang rumah yang terhubung dengan pasar.
Nantinya akan hadir ruang baca baru serta area sarapan pagi untuk pengunjung. Lemari koleksi buku tua juga akan dipindahkan dan ditata ulang agar lebih mudah diakses.
Sejak awal, misi perpustakaan ini tetap sama: membuat siapa pun bisa membaca. “Buku itu jendela dunia. Anak-anak sekarang harus punya minat baca. Dengan membaca, mereka bisa berpikir kritis dan menambah wawasan,” tutur Atie.
Merawat Warisan Literasi
Di tengah perkembangan digital dan menurunnya budaya membaca, Perpustakaan Hendra tetap berdiri sebagai penjaga warisan literasi keluarga.
“Harapan saya, buku-buku ini bisa tetap ada dan dirawat, agar generasi mendatang bisa membacanya,” tutup Ibu Atie.
Perpustakaan Hendra bukan sekadar taman bacaan. Ia merupakan museum hidup literasi menjaga ingatan, merawat pengetahuan, dan meneruskan cinta pada buku dari masa ke masa. (Sarah)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






