ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Permasalahan banjir yang sering menerpa beberapa wilayah di Kota Bandung telah menjadi perhatian Tim Pengabdian kepada Masyarakat 2025 dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ITENAS.
Dikarenakan kondisi topografinya, area Selatan kota Bandung kerap kali menjadi tempat dimana bencana hidrometeorologis jadi permasalahan musiman.
Banjir dan genangan air saat musim hujan bukan lagi persoalan asing bagi warga RW 13, Kelurahan Cijawura, Kecamatan Buah Batu, Kota Bandung. Wilayah seluas 79,1 hektar ini—dengan populasi mencapai 22.279 jiwa—kerap mengalami genangan, terutama di kawasan selatan Kompleks Marga Wangi yang berbatasan dengan Jalan Tol.
ADVERTISEMENT

Kondisi geografis datar pada ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut membuat aliran air hujan lambat, sehingga sistem drainase yang ada menjadi penentu utama dalam mencegah banjir.
Menyikapi permasalahan ini, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) 2025 dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung, turun langsung ke lapangan.
Pendekatan Interdisiplin
Tim yang dipimpin oleh Ar. Erwin Yuniar R., S.T., M.T. dari Program Studi Arsitektur, tim ini juga melibatkan Ir. Moh Abdul Basyid, M.T. (Teknik Geodesi) dan Dr. Ir. Yati Muliati, M.T. (Teknik Sipil), serta tiga mahasiswa dari Itenas dan ITB: Thariq Al-Fath Yudhistianto (Arsitektur), Aldrian Alan Wiharja (Teknik Sipil), dan Rasya Salsabila Putri R. (Teknik Geodesi dan Geomatika ITB).

Melalui pendekatan interdisipliner, tim melakukan pemetaan sistem drainase berbasis data spasial dan survei lapangan komprehensif pada Agustus–Oktober 2025.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa saluran drainase eksisting mengalami sedimentasi parah dan memiliki dimensi yang tidak seragam—mulai dari hulu di Jalan Kencana Wangi Utara hingga hilir di sisi Jalan Tol—sehingga tidak mampu menampung debit air saat hujan deras.
“Pemetaan ini bukan hanya soal mengukur saluran, tapi memahami alur air, elevasi, dan titik-titik kritis tempat genangan mulai terbentuk,” ujar Erwin Yuniar selaku ketua tim.
Dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama warga, Satuan Tugas Penanganan Banjir RW 13, serta perangkat kelurahan, tim mengidentifikasi sejumlah lokasi potensial sebagai titik kolam retensi—yaitu area penampungan sementara air hujan untuk mencegah luapan ke jalan dan permukiman. Usulan ini langsung mendapat respons positif dari Pemerintah Kota Bandung.
Pada 20 Oktober 2025, Wali Kota Bandung mengunjungi RW 13 dan secara khusus membahas rencana pembangunan kolam retensi berdasarkan temuan pemetaan tim Itenas.

“Kolaborasi antara kampus, masyarakat, dan pemerintah daerah seperti ini adalah kunci ketahanan perkotaan,” tegas Wali Kota dalam kunjungan tersebut.
Hasil Kegiatan
Kegiatan PKM ini tidak hanya menghasilkan rekomendasi teknis berupa peta drainase digital dan desain perbaikan saluran, tetapi juga memperkuat kapasitas lokal melalui pelibatan langsung warga dan Satgas Banjir.
Dengan pendekatan berbasis bukti dan partisipatif, Itenas menunjukkan peran nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam menyelesaikan persoalan riil di masyarakat—khususnya dalam mewujudkan kota Bandung yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim dan bencana hidrometeorologis.
Kini, hasil pemetaan tersebut telah diserahkan kepada pengurus RW 13, Cijawura sebagai dasar usulan program infrastruktur tahun 2026, membuka jalan bagi solusi jangka panjang yang berkelanjutan dan berbasis data. (*.*)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






