KORANMANDALA.COM – Tim dari Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung telah melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini untuk menangani permasalahan kualitas suasana ruang interior di Dinas Arsip dan Perpustakaan (DISARPUS) Kota Bandung.
Permasalahan utama yang dihadapi meliputi pemanfaatan cahaya alami yang belum optimal, sirkulasi antar rak buku yang tidak standar, dan tata letak fasilitas yang kurang efisien, termasuk pada Pojok Baca Digital (Pocadi) dan Ruang Story Telling. Secara umum, isu-isu ini menyebabkan perpustakaan kehilangan daya tarik karena kurangnya fasilitas penunjang yang menghibur sekaligus mendidik.
Menurut Iyus Kusnaedi, S.Sn., M.Ds., dosen Program Studi Desain Interior Itenas, tujuan utama PKM ini adalah meningkatkan kualitas suasana ruang melalui pendekatan desain berkelanjutan (Sustainable Design). Fokusnya adalah mengoptimalkan kondisi eksisting dan menggunakan material yang terjangkau untuk memperbarui desain interior dan furnitur di area baca, ruang story telling, dan Pocadi. Output desain juga harus memenuhi persyaratan sebagai desain yang instagramable dan berkelanjutan.
Metodologi dan Pelaksanaan
Lebih lanjut, Iyus menuturkan bahwa metode yang digunakan adalah gabungan kegiatan daring (koordinasi, konsultasi via WhatsApp) dan luring (survei, observasi lapangan, pengukuran, wawancara, dan presentasi) yang dilaksanakan di lokasi DISARPUS, Jl. Seram No. 2 Bandung. Pendekatan partisipatif dan kolaboratif diterapkan dengan melibatkan wawancara bersama pegawai DISARPUS untuk memastikan solusi desain selaras dengan kebutuhan mitra dan pengguna ruang.
Tim PKM, yang dibantu oleh empat mahasiswa Desain Interior Itenas , memulai kegiatan resmi pada 15 Mei 2025 hingga 5 November 2025. Untuk memudahkan kolaborasi dalam pekerjaan tim, digunakan program Archicad dengan fitur Teamwork yang memanfaatkan BIMcloud untuk kolaborasi waktu nyata, memungkinkan anggota tim bekerja secara simultan dari lokasi mana pun.
Hasil survei awal menunjukkan denah eksisting sudah mendukung fungsi utama, namun beberapa area memerlukan penataan ulang untuk efisiensi dan kenyamanan tanpa mengeluarkan anggaran besar untuk renovasi. Data survei juga dirangkum dalam grafik untuk Kualitas Suasana Ruang, meliputi pencahayaan, tata letak, sirkulasi, suhu, dan kualitas udara di berbagai area seperti lobi, koleksi dewasa/anak, area Braille, aula, area pameran, dan BI Corner.
Hasil Desain dan Tingkat Kepuasan
Rekomendasi desain baru dibandingkan dengan kondisi sebelum didesain di berbagai area, seperti Area Resepsionis, Foyer, Lift Lobby, Area Baca Dewasa, Area Anak, Area Pameran, BI Corner, dan Aula. Pengembangan desain menunjukkan potensi besar untuk meningkatkan kualitas atmosfer ruang, misalnya dengan menampilkan arsip sebagai galeri literasi dan menggunakan material ramah lingkungan.
Tahap akhir PKM adalah penyebaran kuesioner kepada pengelola dan pemustaka untuk mengukur tingkat kepuasan. Hasilnya menunjukkan:
– Tingkat Kepuasan Desain dan Estetika sangat tinggi, dengan rata-rata nilai 4.10. Responden menilai desain lebih modern, rapi, elegan, dan menarik.
– Kualitas Udara (Sirkulasi, Minim Bau) mendapatkan nilai tertinggi, yaitu 4.30. – Meskipun mayoritas puas, aspek Kenyamanan Keseluruhan Suasana (rata-rata 3.60) dan perataan akustik/pencahayaan buatan (rata-rata 3.80) diidentifikasi sebagai area yang masih memiliki ruang untuk perbaikan.
Terakhir, Iyus menjelaskan bahwa peningkatan atmosfer spasial dengan desain berkelanjutan sangat penting untuk meningkatkan citra perpustakaan dan kepuasan pengguna.
Kolaborasi antara akademisi dan mitra lokal krusial untuk menerapkan desain yang instagramable dan mendorong eksplorasi literasi berkelanjutan. Dengan adopsi desain ramah lingkungan, DISARPUS Kota Bandung diharapkan dapat menjadi model perpustakaan modern yang menginspirasi. (*.*)
