ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Masjid Salman ITB kembali menegaskan perannya sebagai pusat pembinaan yang inklusif melalui penyelenggaraan The Scholarship Stone, sebuah program yang memadukan seminar internasional dengan peta peluang beasiswa, strategi menarik perhatian pemberi beasiswa, teknik penulisan esai, strategi wawancara, hingga roadmap studi luar negeri.
Acara ini membuka ruang bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang, termasuk lintas agama, untuk memahami lebih dalam peluang pendidikan global.
Salah satu pemateri, Muhammad Aminuddin, menekankan bahwa beasiswa bukan hanya soal prestasi akademik, tetapi juga sarana meraih nilai keberkahan dalam menempuh pendidikan.
ADVERTISEMENT
“Kegiatan ini menjadi sarana menemukan batu bertuah pendidikan. Melalui beasiswa, kita bukan hanya mengejar capaian duniawi, tetapi juga keberkahan,” ujarnya.
Sementara itu, Rizky, Koordinator Program Impact Class, menegaskan bahwa Masjid Salman ITB sejak awal membuka diri sebagai ruang pembelajaran bagi siapa pun tanpa memandang agama.
Ia mencontohkan Kelas Bahasa TOEFL dan IELTS yang telah berjalan selama tiga tahun dan kini memasuki batch ke-10. Program tersebut diikuti 132 peserta, termasuk sekitar 10 peserta non-muslim. Beberapa di antaranya bahkan pernah meraih predikat terbaik.
“Kelas Bahasa sudah mencapai batch 10 dan banyak peserta non-muslim. Kami tidak pernah membatasi,” kata Rizky.
“Bahasa itu batu loncatan.”
Selain kelas bahasa, Impact Class juga menyediakan pelatihan academic writing, kelas Excel, serta berbagai pengembangan keterampilan lain sebagai persiapan studi dan karier.
Fajar Nugraha, Kepala Program Student Care yang membawahi Salman Alumni Award, menjelaskan bahwa The Scholarship Stone merupakan kolaborasi antara Impact Class, Student Care, dan bidang aktualisasi diri di bawah BMK Salman ITB. Program ini bertujuan membuka wawasan peserta mengenai besarnya peluang pendidikan global.
“Pendidikan itu sangat luas. Peluang kuliah di luar negeri itu nyata dan bisa diraih,” ujarnya.
Salah satu peserta, Gina Sonia dari UIN Bandung, mengaku sangat tertarik sejak pertama kali mengetahui judul dan topik acara. Ia menilai kegiatan berlangsung rapi, informatif, dan memberikan banyak wawasan baru.
“Acaranya nyaman, terstruktur, dan isi materinya daging banget,” katanya.
Gina menambahkan bahwa seminar ini memberinya dorongan kuat untuk kembali mengejar cita-cita melanjutkan studi ke luar negeri.
“Rasanya mulai semangat lagi buat belajar, karena ternyata peluang sekolah di luar negeri itu terbuka banget. Tinggal kita mau berusaha atau tidak,” tuturnya.
Melalui pendekatan inklusif dan orientasi pada pengembangan kompetensi, Masjid Salman ITB menegaskan kembali komitmennya sebagai ruang pemberdayaan bagi seluruh mahasiswa.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






