Kamis, 26 Februari 2026 18:00

KORANMANDALA.COMFestival Lintas Budaya Mosaik Kebudayaan Indonesia–Tionghoa yang digelar di Universitas Katolik Parahyangan () berlangsung meriah dan mendapat respons positif dari peserta maupun penyelenggara.

Kegiatan ini merupakan proyek akademik mahasiswa yang bertujuan mengenalkan budaya Tionghoa-Indonesia secara inklusif dan edukatif.

Ketua Pelaksana, Ethan Reysan, mengatakan persiapan festival telah dilakukan sejak pertengahan September, bersamaan dengan dimulainya tahun perkuliahan.

Nick Kuipers Gembira Kembali ke GBLA, Setelah 5 Musim Bersama

“Kami menerima proyek dari mata kuliah Manajemen Lintas Budaya. Sejak itu kami mulai menyusun konsep dan mengoordinasikan 234 mahasiswa untuk mengatur seluruh rangkaian acara,” ujarnya. Ethan bersama wakil ketua, Johnson Mayer Halen, membawahi 12 koordinator yang menangani berbagai divisi.

Secara akademik, Ethan menilai tujuan mata kuliah tercapai melalui penyelenggaraan festival ini.

“Kami jadi lebih melek terhadap cultural intelligence,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa festival tidak hanya menampilkan budaya Tionghoa secara umum, tetapi juga budaya Chinese peranakan yang telah lama berakar di Indonesia.

“Kita menampilkan sejarah, tokoh, hingga kontribusi masyarakat Tionghoa-Indonesia. Intinya, kita ingin menunjukkan bahwa kita ini Indonesia, disatukan dalam keberagaman,” tambahnya.

Ethan juga menekankan semangat kebangsaan dalam kegiatan tersebut. “Kita ini keturunan Chinese, tapi darah kita Indonesia. Kita disatukan dengan kultur yang berbeda-beda. Yang ingin kita sampaikan adalah Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.

Senada dengan itu, Johnson menegaskan bahwa keberagaman budaya seharusnya menjadi perekat masyarakat. “Kita ingin semua merasa bahwa budaya itu mempersatukan kita di tengah keberagamannya,” katanya.

Dosen pengampu mata kuliah Manajemen Lintas Budaya, Triyana Iskandar, turut memberikan dukungan terhadap proyek ini. Ia berharap festival dapat memperluas pemahaman pengunjung mengenai keberagaman dan meningkatkan kesetaraan bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia. “Tujuannya agar pengunjung memahami keberagaman. Saya berharap suku Tionghoa bisa semakin setara di mata masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Antusiasme juga datang dari para pengunjung. Katalana, salah satu peserta, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru mengenai akulturasi budaya Tionghoa dengan Indonesia. “Acaranya sangat bermanfaat. Banyak unsur budaya Tionghoa yang sudah menjadi bagian dari kultur Indonesia,” tuturnya.

Pengunjung lainnya, Nana, menilai rangkaian kegiatan festival disusun dengan menarik dan informatif. “Talkshow-nya seru dan membahas cara mendidik dan berbisnis ala Tionghoa. Bazar tenant juga menarik karena mengenalkan budaya Tionghoa sehingga bukan hanya orang keturunan Tionghoa yang bisa belajar,” katanya.

Kedua pengunjung itu berharap festival serupa dapat digelar kembali dengan skala yang lebih besar. “Semoga ada lagi dan lebih meriah, sekaligus mengenalkan budaya-budaya lainnya,” ujar nya.(Sarah)

Koranmandala.com

Exit mobile version