KORANMANDALA.COM – Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menyelenggarakan rangkaian acara budaya dan edukasi yang berlangsung meriah sepanjang hari.
Kegiatan ini menghadirkan beragam pertunjukan seni, pameran budaya, hingga talkshow bisnis yang menarik perhatian civitas akademika, komunitas, dan masyarakat umum.
Festival budaya ini menampilkan pameran kebudayaan, bazar, kompetisi Xiangqi, pertunjukan musik, kaligrafi Tionghoa, Chinese painting, Chinese knot, Chinese culinary, traditional medicine, paper art, hingga atraksi Barongsai dan Liong.
Klik Disini, Link Live Streaming Persib Bandung vs Dewa United FC, Gratis
Sejumlah komunitas seni dan budaya ikut meramaikan acara dengan partisipasi aktif sepanjang kegiatan berlangsung.
Salah satu agenda utama adalah Talk Show Bisnis yang menghadirkan tiga pembicara dengan latar belakang berbeda, namun memiliki kesamaan dalam menekankan pentingnya karakter, ketekunan, dan budaya keluarga dalam dunia usaha.
Dalam pemaparannya, Liliawati menegaskan bahwa edukasi Tionghoa selalu berakar pada pembentukan karakter.
“Edukasi Tionghoa itu budi pekerti, manner, dan aturan yang harus ditegakkan. Anak-anak perlu diajarkan jujur, berbakti pada orang tua, memegang janji, menghargai agama lain, dan berpikir kritis,” ujarnya.
Lay Ay Ling membahas filosofi pendidikan Hakka yang mengutamakan ketekunan dan proses belajar jangka panjang.
“Dengan belajar kita bisa bangkit. Dalam budaya Hakka, pendidikan adalah kekuatan hidup, bukan sekadar capaian akademis. Ketekunan bisa mengalahkan bakat,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kesetaraan gender, kekuatan komunitas, serta mindset kewirausahaan dalam membangun bisnis berkelanjutan.
Sebagai pelaku usaha turun-temurun lebih dari satu abad, Edrick menuturkan bahwa budaya keluarga menjadi pondasi bisnis mereka.
“Kunci kami ada pada budaya keluarga: bekerja keras, tetap rukun, sederhana, dan tidak lupa asal-usul meski sudah sukses,” katanya.
Acara ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif, penyerahan plakat, serta apresiasi bagi para pembicara dan peserta. Hingga akhir acara, antusiasme pengunjung tetap tinggi, menciptakan suasana hangat sekaligus mempererat hubungan antara civitas akademika, komunitas eksternal, dan masyarakat luas. (Sarah)
