KORANMANDALA.COM – Di lembah Campuhan, tempat dua sungai bertemu dan angin lembut membawa aroma bunga kamboja, 31 peserta dari berbagai daerah — termasuk lima dari Singapura — berkumpul di IBAH Resort, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Dalam nuansa alam yang hening dan penuh kehidupan, mereka mengikuti Waldorf Early Childhood Education – Seminar 3, yang diselenggarakan oleh Asosiasi Waldorf Steiner Indonesia (AWSI) pada tanggal 4-11 Oktober 2025 lalu.
Selama delapan hari penuh, para peserta menjalani pengalaman yang bukan sekadar pembelajaran pendidikan anak usia dini, melainkan perjalanan batin untuk mengenal diri sendiri — sesuai dengan prinsip antroposofi yang digagas oleh Rudolf Steiner, pencetus gerakan pendidikan Waldorf di dunia.
Pagi di Campuhan: Persahabatan dan Irama Kehidupan
Sabtu pagi (11 Oktober) pukul 08.32 WITA, udara Ubud masih terasa lembap oleh embun, sementara sinar matahari mulai menembus sela daun bambu di sekitar lembah. Angelina dan Clarissa tampak berlari kecil dengan tawa lepas, layaknya dua murid SMP yang tak ingin terlambat.
Keduanya bergegas menuju ruang Wantilan, tempat para peserta sudah mulai sesi Singing dua menit sebelumnya. Di wajah mereka terpancar keceriaan — bukan karena sekadar mengikuti seminar, tapi karena melangkah bersama lagi setelah 26 tahun persahabatan yang terjalin sejak remaja. Kini, mereka hadir dalam ruang yang sama, mempelajari Waldorf Early Childhood Education (WECE) dengan semangat yang sama: menemukan makna baru dalam hidup dan pendidikan.
Momen sederhana itu menjadi potret kecil dari semangat seminar ini — bahwa belajar tidak pernah berhenti, dan setiap pertemuan sejati membawa kita lebih dekat kepada diri sendiri.
Alam yang Menjadi Guru
Bertengger di tepi lembah hijau Campuhan, IBAH memancarkan keseimbangan antara keindahan dan ketenangan. Arsitekturnya berpadu harmonis dengan pepohonan dan aliran Sungai Wos yang mengalun lembut. Di tempat yang seolah dirancang oleh alam itu, setiap peserta menemukan ruang untuk berdiam, meresapi, dan membuka kesadaran batin.
Setiap pagi dimulai dengan Singing, Echo of the Night, dan Verse — kegiatan yang sederhana namun penuh makna. Di sana, peserta belajar menghadirkan diri secara utuh: mendengarkan, menyadari, dan merasakan irama kehidupan sebelum melangkah ke sesi inti pembelajaran.
Mengenal Anak, Mengenal Diri
Seminar ini menghadirkan para tutor berpengalaman dari berbagai negara, masing-masing membawa sudut pandang yang memperkaya pemahaman peserta tentang perkembangan anak dan manusia.
-
Tjok Gde Kerthayasa (Indonesia) membuka dengan tema The Healthy Child and How to Support Healthy Child Development, mengajak peserta melihat anak sebagai makhluk utuh — tubuh, jiwa, dan roh.
-
Edith Van der Meer (New Zealand) membawakan sesi Challenging Behaviour and Boundaries serta Rhythm and Repetition, menekankan bahwa ritme dan batas yang sehat adalah napas kehidupan yang menuntun keseimbangan. Selain itu, Edith juga memberikan materi praktis membuat wool painting dan table puppet.
-
Paul Lawrence (Australia) memaparkan Foundations of Human Experience, menjelaskan hubungan antara kepala, dada, dan anggota gerak dalam proses pengajaran. Mereka mengingatkan, “mengajar bukan hanya dengan kepala, tetapi juga dengan hati dan tangan.” Paul juga menjadi tutor untuk kegiatan singing dan musik.
- Nicole Lawrence (Australia) mendampingi peserta saat berkegiatan seni yaitu wet on wet painting dan observational drawings.
-
Kenny Dewi (Indonesia) menutup dengan Overview of Waldorf Education, merangkum bahwa pendidikan sejati adalah perjalanan menuju kesadaran diri.
Pendidikan Waldorf: Konsep Dunia Positif dan Implikasinya terhadap Perkembangan Anak
Seni dan Keheningan Sebagai Jalan
Selain kuliah dan diskusi, kegiatan seni menjadi bagian penting dari pengalaman belajar. Para peserta mencipta lagu dalam mood of the fifth, melukis dengan teknik wet-on-wet painting, membuat wool painting, table puppet, hingga observational drawing.
Melalui seni, mereka belajar untuk hadir, sabar, dan peka — sebuah latihan batin untuk mengenali keindahan yang hidup dalam setiap gerak kecil manusia.
Saat melihat berbagai hasil observational drawing peserta, Nicole Lawrence “Wow – I am so impressed with all your beautiful drawings 🙏🏼💗”
Suara Para Peserta
Bagi banyak peserta, delapan hari ini menjadi pengalaman yang melampaui ekspektasi.
“Seminar ini mengingatkan saya untuk kembali kepada nilai-nilai yang saya yakini dalam pendidikan dan kehidupan,” ujar Shalini, peserta dari Singapura yang telah lama mengenal pendidikan Waldorf. “Semua yang saya dapatkan di sini jauh melebihi ekspektasi saya.”
Sementara itu, Clarissa, peserta dari Jakarta yang baru pertama kali mengikuti seminar Waldorf, berbagi dengan lembut: “Saya mendapatkan begitu banyak asupan yang akan saya cerna — tidak hanya dengan kepala, tapi juga dengan hati.”
Dua kisah ini mencerminkan dua perjalanan: satu sebagai pengingat, satu sebagai awal — keduanya bertemu dalam semangat yang sama, yaitu belajar menjadi manusia yang sadar.
Pendidikan Waldorf: Pentingnya Imitasi dan Teladan Bagi Anak Usia 0-7 Tahun
Kesan Panitia: Semangat Kolektif yang Menginspirasi
Bagi Ibu Puspa, guru kindergarten di Madu Waldorf sekaligus salah satu panitia kegiatan, WECE bukan hanya tentang menyerap ilmu, tetapi juga tentang menumbuhkan kesadaran bersama.
