ADVERTISEMENT
KoranMandala.com – Di tengah sejuknya udara Bandung, yang membelai pepohonan rimbun di sekitar Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), sebuah peristiwa luar biasa terukir dalam sejarah. Di Gedung Pusat Pembelajaran Arntz-Geise (PPAG), berkumpul lebih dari 200 jiwa dari berbagai penjuru dunia. Mereka datang bukan hanya untuk sebuah konferensi, melainkan untuk sebuah pertemuan hati, pikiran, dan semangat yang terangkai dalam satu visi.
Selama empat hari penuh, dari 30 Juli hingga 2 Agustus 2025, Indonesia untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Anthroposophy (IICA). Sebuah perhelatan yang membawa gagasan-gagasan visioner Rudolf Steiner.
Rasa haru dan bangga terpancar jelas dari raut wajah Kenny Dewi, Ketua Koordinator konferensi. Dalam sambutannya yang menyentuh, ia mengungkapkan perasaan yang dirasakan oleh banyak orang di ruangan itu. “Saat saya melihat Anda semua, dari seluruh dunia, duduk di sini. Rasanya ini bukan hanya mimpi saya. Ini adalah mimpi kita yang menjadi kenyataan,” kata Ibu Kenny, menggarisbawahi perasaan kebersamaan yang mendalam.
ADVERTISEMENT
Lebih dari itu, acara ini juga menjadi puncak dari kerja keras yang luar biasa. “Ini adalah puncak dari sebuah upaya kolektif yang jauh melampaui satu individu atau organisasi mana pun,” tambahnya, memuji semangat kolaborasi yang telah menyatukan semua pihak. Sambutan ini menjadi penanda bahwa konferensi ini adalah hasil dari sebuah keyakinan kolektif, bukan sekadar inisiatif individu.
IICA 2025 di UNPAR Bandung: Kolaborasi Global & Anthroposophy untuk Kesejahteraan Berkelanjutan
Fondasi Akademis dan Kemanusiaan dari UNPAR
Meskipun terasa intim dan personal, konferensi ini juga memiliki fondasi akademis yang kuat berkat dukungan penuh dari Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR). Brigita Meylianti Sulungbudi, Ph.D., ASCA., CIPM, Dekan Fakultas Ekonomi UNPAR, secara resmi membuka konferensi. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa inisiatif ini sangat sejalan dengan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh kampusnya. “Sejalan dengan nilai UNPAR, yaitu humanum dan integritas,” ujar Ibu Dekan, menggarisbawahi fondasi moral dan etis acara ini.
Brigita melanjutkan, “Kami percaya bahwa melalui Anthroposophy, kita akan mampu menemukan cara untuk menyeimbangkan perkembangan material dan spiritual,” ujar Dr. Brigita, menyambut lebih dari 200 peserta dan panitia yang hadir. Visi ini selaras dengan tema konferensi, yaitu “No One Left Behind – Towards Sustainable Well-Being”, yang mengajak semua pihak untuk bekerja sama menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi seluruh umat manusia.
Selanjutnya, Panggung Gagasan dan Praktik: Menemukan Makna di Setiap Bidang.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






