Jumat, 27 Februari 2026 12:17

Imitasi di Layar Kaca: Sebuah Perubahan Paradigma

Namun, yang paling menyentak adalah ketika Roby membahas tentang imitasi, cara paling dasar manusia belajar. Dulu, anak-anak belajar dari orang-orang terdekat mereka: orang tua, guru, paman, bibi, kakek, nenek. Orang-orang yang mencintai mereka, yang peduli, yang berbagi ikatan emosional. Anak-anak meniru apa yang baik dan biasa di lingkungan mereka (bias konformis) atau meniru mereka yang punya reputasi baik (bias reputasi).

Kini? Roby dengan lugas menyatakan bahwa lebih banyak meniru para influencer di media sosial. Seseorang yang mungkin tidak mereka kenal secara pribadi, tidak memiliki ikatan emosional, bahkan tidak peduli pada mereka. Ini, menurut Roby, adalah perubahan paradigma yang masif dalam sejarah manusia. Kita membiarkan anak-anak kita dibesarkan dengan meniru figur-figur yang jauh dan tak terjangkau, yang mungkin hanya menampilkan sisi sempurna dari kehidupan mereka.

Dampak Teknologi dan Refleksi untuk Masyarakat

Roby mengingatkan kita semua bahwa kesulitan yang dihadapi Gen Z ini bukanlah sepenuhnya salah mereka. Mereka adalah produk dari lingkungan digital tempat mereka dibesarkan. Ada semacam kesadaran global yang mulai tumbuh, tentang efek samping tak terduga dari teknologi ini. Beberapa negara, termasuk Indonesia, bahkan mulai berpikir tentang regulasi penggunaan media sosial untuk anak-anak. Orang tua, seringkali merasa aman karena anak-anak di rumah, padahal di balik layar gadget itu, dunia maya bisa menjadi rimba yang berbahaya.

Pada bagian ini, Roby Muhamad juga menambahkan pandangannya yang menarik:

“Gen Z itu seperti eksperimen manusia skala besar yang dilakukan oleh perusahaan teknologi seperti Meta, Google, dan TikTok.”

Pembicara juga menyoroti bahwa kita sebagai masyarakat, termasuk orang tua, cenderung membiarkan anak-anak menjadi bagian dari eksperimen tersebut, bahkan terkadang merasa senang dengan memberikan gadget kepada anak-anak. Konteks yang ingin disampaikan adalah bahwa Gen Z dibesarkan dengan cara yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya, terutama generasi pembicara dan generasi milenial, sehingga menimbulkan berbagai tantangan.”

Dan akhirnya, Roby menyimpulkan dengan resep lama menuju kesengsaraan: membandingkan diri dengan orang lain. Dulu, kita mungkin membandingkan diri dengan tetangga atau teman sekolah. Tapi gadget dan media sosial, terutama Instagram dengan fitur selfie-nya, ibarat pisau bermata dua yang mempertajam resep ini. Data pun menunjukkan, sejak Instagram populer, kesehatan mental remaja putri di Amerika Serikat mengalami penurunan drastis.

Pemikiran Roby Muhamad yang disampaikan di tengah zoom meeting tersebut, seolah cerminan bagi kita semua. Bahwa di balik kilau teknologi, ada tantangan besar yang harus kita hadapi bersama dalam memahami dan membimbing generasi muda kita. Ini bukan hanya tentang mereka, tapi juga tentang kita, cerminan diri kita sebagai masyarakat.(FMA)

 

1 2

Penulis di Koran Mandala dengan kajian Pernak-pernik Bandung, Pendidikan, Geospasial, dan Sepakbola.

Exit mobile version