Koran Mandala – Tokoh Budaya Jawa Barat, Ratu Raja Okki Jusuf Judanagara, mengajak masyarakat untuk kembali memahami dan menghidupkan ajaran Tri Tangtu di Buana, salah satu pilar kebudayaan Sunda yang telah lama menjadi dasar tatanan pemerintahan dan kehidupan masyarakat kerajaan-kerajaan Sunda masa lalu.
Tri Tangtu di Buana merupakan filosofi kuno yang terdiri dari tiga unsur utama yang saling melengkapi:
1. Karamaan (Jagad Daranan) – tempat para Raja Sepuh mendidik calon pemimpin dengan ilmu kenegaraan, perang, pertanian, hingga irigasi. Simbol dari kokohnya Keraton Luhur.
Budaya Sunda Kian Tersisih, Muhamad Syahlevi Minta Dinas Terkait Buat Terobosan
2. Karesian (Jagad Kerta) – tempat Raja Resi membentuk karakter spiritual para pemimpin melalui pengajaran budi pekerti dan ketauhidan. Simbol dari Keraton Madya.
3. Karatuan (Jagad Palangka) – wilayah kekuasaan Raja atau Ratu dalam menjalankan pemerintahan dengan adil dan bijaksana. Simbol dari Keraton Handap.
Menurut Okki, nilai-nilai luhur ini kini mulai dilupakan seiring gempuran budaya asing dan kemajuan zaman. Jati diri budaya Sunda perlahan terkikis.
“Sukleuk leuweung, sukleuk lampih, jauh kasintung kalapa, lieuk deungeun lieuk lain, jauh indung kabapa,” kata Okki mengutip peribahasa Sunda yang menggambarkan keterasingan manusia modern dari akar budayanya.
Ia menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai Tri Tangtu agar generasi masa depan tidak kehilangan pedoman hidup.
“Teundeun di handeuleum sieum, tunda di hanjuang siang, tunda ala’eun sampeureun jaga. Apa yang diwariskan leluhur bukan sekadar tradisi, tapi juga jalan hidup,” ujarnya.
