ADVERTISEMENT
Koran Mandala – Forum Mahasiswa Pascasarjana (Formaca) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggandeng Komunitas Puisi Esai, Denny JA Foundation, dan SupeR Jawa Barat menggelar pelatihan penulisan puisi esai, beberapa waktu lalu, di Lantai 5 Gedung Pascasarjana Kampus 2 UIN Bandung.
Pelatihan bertajuk “Apa Itu Puisi Esai?” ini diikuti 48 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan ulama perempuan. Kegiatan berlangsung dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, menghadirkan sastrawan nasional Mahwi Air Tawar sebagai narasumber utama.
Tampil di UIN Bandung, Panji Sakti Ajak Selami Hakikat Cinta Kepada Sang Maha
ADVERTISEMENT
Dalam paparannya, Mahwi menjelaskan bahwa puisi esai merupakan genre sastra yang memadukan narasi, fakta, dan estetika bahasa. “Puisi esai memberi ruang untuk merekam peristiwa, menyuarakan yang terpinggirkan, dan mendorong pembaca merenung secara mendalam,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kepekaan sosial serta integritas penulis dalam menggali realitas sebelum menuangkannya ke dalam karya sastra.
Pelatihan ini menjadi bagian dari gerakan nasional yang mendorong penguatan posisi puisi esai sebagai genre sastra kontemporer yang reflektif dan berdaya sosial. Diperkenalkan oleh Denny JA lewat buku “Atas Nama Cinta” pada 2012, genre ini kini berkembang pesat dan telah diadopsi oleh sastrawan ASEAN.
“Puisi esai bukan hanya tentang keindahan, tapi juga medium edukasi dan keberpihakan pada nilai kemanusiaan,” kata Denny JA, penggagas genre tersebut.
Sebagai tindak lanjut, para peserta akan menyusun karya yang dikurasi dalam sebuah antologi puisi esai yang direncanakan terbit menjelang Hari Kemerdekaan RI.
Sekretaris Prodi Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Bandung, Neng Hannah, menegaskan pentingnya keterlibatan sastrawan dalam pembangunan budaya. “Di tengah dunia digital, sastra tetap menjadi jembatan antara refleksi, empati, dan kesadaran kolektif,” tutupnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






