ADVERTISEMENT
Misalnya, jika seseorang mengonsumsi satu bungkus rokok seharga Rp35.000 setiap dua hari, maka dalam setahun bisa menghabiskan Rp6,3 juta.
Jika uang tersebut kita investasikan ke saham blue chip dengan pertumbuhan 108% dalam 5 tahun, nilainya bisa tumbuh menjadi lebih dari Rp65 juta.
Ini belum termasuk biaya medis akibat kebiasaan tersebut.
ADVERTISEMENT
Kedua, pengeluaran untuk mengesankan orang lain.
Banyak dari kita membeli barang mahal seperti jam tangan mewah atau mobil bukan karena kebutuhan, tetapi demi pengakuan sosial.
Padahal, biaya kepemilikan barang-barang tersebut jauh lebih besar daripada harganya, jika kita hitung dengan cicilan, pajak, perawatan, dan depresiasi nilainya.
Ketiga, membayar bunga tinggi karena penggunaan kartu kredit atau layanan paylater secara tidak bijak.
Menggunakan fasilitas kredit untuk barang konsumtif tanpa kemampuan membayar lunas justru menjadi jerat utang yang merusak keuangan jangka panjang.
Keempat, hanya memiliki satu sumber penghasilan.
Dalam dunia kerja yang dinamis dan penuh ketidakpastian, bergantung hanya pada satu penghasilan berarti menempatkan diri dalam risiko yang sangat tinggi.
Membangun sumber penghasilan tambahan bisa menjadi solusi untuk meningkatkan ketahanan keuangan.
Kelima, pengeluaran berlebih untuk aktivitas berpacaran yang tidak produktif.
Memprioritaskan hiburan sesaat daripada rencana jangka panjang seperti investasi bersama atau menabung untuk masa depan sering kali menjadi penghambat dalam mencapai tujuan finansial.
Tetapkan tujuan keuangan yang jelas sehingga kita dapat memilih untuk menabung daripada menghabiskan uang untuk hal yang tidak perlu.
Itulah hal yang harus kita hindari jika ingin kaya menurut Felicia Putri Tjiasaka. ***
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






