ADVERTISEMENT
Koran Mandala – Bagi sebagian pembaca yang sering di minta menjadi khotib di hari jumat atau saat Idul Adha dan Idul Fitri, tentu tak sulit menyiapkan naskah khutbah jika cukup persiapan.
Namun, ada kalanya panita meminta menjadi khotib secara mendadak. Bisa karena khotib yang sedianya tampil berhalangan atau karena memang panitia belum mendapatkan sosok yang tepat.
Berikut naskah Khutbah Idul Adha 1446 H / 2025 M sederhana yang bisa digunakan oleh khotib Idul Adha yang kurang persiapan.
ADVERTISEMENT
Judul:
“Meneladani Keikhlasan dan Pengorbanan Nabi Ibrahim di Era Ujian Duniawi”
Khutbah Pertama
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Allahu Akbar Kabiran, Walhamdulillahi Katsiran, Wa Subhanallahi Bukratan wa Ashila.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di pagi yang penuh berkah ini, mari kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan kita kesempatan untuk merayakan hari besar umat Islam, Hari Raya Idul Adha, hari raya kurban, hari raya pengorbanan dan keikhlasan.
Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, sang pembawa rahmat bagi seluruh alam. Semoga kita senantiasa termasuk umat yang istiqamah meneladani sunnah-sunnah beliau.
Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Idul Adha bukan hanya ritual menyembelih hewan kurban. Lebih dari itu, ia adalah simbol ketakwaan dan kepatuhan seorang hamba kepada Rabb-nya, sebagaimana ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.
Saat mimpi Nabi Ibrahim diperintah untuk menyembelih anaknya, beliau tidak ragu. Sebagai ayah, tentu hatinya diuji. Namun ketakwaan dan keyakinannya kepada Allah lebih besar dari kecintaannya pada dunia dan keluarga.
Apa kata Nabi Ismail ketika mendengar perintah itu?
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Inilah bentuk ketundukan sejati—kepasrahan total kepada kehendak Allah.
Dan Allah menggantinya dengan sembelihan yang agung. Dari sinilah lahir syariat ibadah kurban yang kita jalankan hingga hari ini.
Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Khutbah Kedua
Ma’asyiral muslimin yang dirahmati Allah,
Hari ini kita hidup di zaman yang penuh dengan kemudahan, tapi juga diiringi oleh ujian yang tak kalah besar. Godaan harta, jabatan, dan popularitas semakin kuat mencengkeram. Dunia seakan-akan menjadi tujuan utama, bukan lagi alat untuk mencapai ridha Allah.
Maka mari kita bertanya:
Sudahkah kita meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim dalam kehidupan kita sehari-hari?
Apakah kita mampu mengorbankan ego, gengsi, dan keinginan dunia demi kebenaran dan kebaikan?
Ibadah kurban mengajarkan kita untuk menyisihkan sebagian dari yang terbaik, bukan yang tersisa. Kurban bukan sekadar tradisi, melainkan manifestasi dari cinta dan ketaatan kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamu-lah yang dapat mencapainya.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Maka, mari kita periksa kembali niat kita saat berkurban: apakah sekadar gengsi dan pamer, atau sungguh-sungguh karena Allah?
Relevansi di Masa Kini
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Hari ini, kita juga dihadapkan pada disrupsi informasi dan komunikasi digital. Media sosial menjadi panggung yang sering kali melahirkan fitnah, perpecahan, dan adu domba. Banyak di antara kita yang terjebak pada narasi-narasi kebencian, lupa bahwa Islam mengajarkan santun dalam bicara, adil dalam menilai, dan bijak dalam bersikap.
Pancasila yang menjadi dasar negara pun menanamkan nilai-nilai persatuan, keadilan sosial, dan kemanusiaan yang sejalan dengan ruh Islam. Maka, peringatan Hari Raya Idul Adha ini dapat menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pengorbanan bukan hanya menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih hawa nafsu dan sikap egoistik di ruang digital.
Menjadi Umat yang Kuat
Di tengah kenaikan biaya hidup, tekanan ekonomi, dan tantangan sosial lainnya, semangat Idul Adha mengajarkan kita untuk peduli dan berbagi.
Bantulah tetangga, hiburlah yang kehilangan, kuatkan yang sedang lemah.
Jangan biarkan semangat kurban ini berakhir hari ini saja. Mari jadikan setiap hari sebagai ladang kebaikan, ladang pengorbanan, dan ladang amal.
Doa Penutup
اللهم اجعلنا من المتقين، ومن عبادك الصالحين، وارزقنا الإخلاص في القول والعمل، وتقبل منا ومن جميع المسلمين ذبائحنا وطاعاتنا.
Ya Allah, jadikanlah kami umat yang bertakwa, yang ikhlas, dan yang senantiasa meneladani Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW.
Ampuni dosa kami, dosa orang tua kami, dan terimalah kurban serta amal kami.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






