Ilustrasi Anak Main Media Sosial (Ilustrasi AI)
KORAN MANDALA – Di tengah maraknya manipulasi informasi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan algoritma media sosial, masyarakat perlu membangun ketahanan mental serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terpengaruh arus informasi negatif.
Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja K, mengatakan, perlindungan kesehatan mental di ruang digital tidak harus dilakukan dengan menghindari teknologi sepenuhnya. Namun, masyarakat perlu memiliki disiplin mental dan kemampuan menyaring informasi secara kritis.
Menurutnya, terdapat sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental di tengah derasnya arus informasi digital. Salah satunya dengan menerapkan cognitive hygiene atau kebersihan kognitif melalui pembatasan waktu mengakses berita negatif yang dikonsumsi secara berulang.
“Menjauhkan diri secara terukur dari aliran berita 24 jam atau doomscrolling merupakan langkah awal yang penting untuk memberikan waktu istirahat bagi sistem saraf pusat dari paparan informasi yang terus-menerus memicu rasa terancam,” ujarnya saat dihubungi koran mandala,Minggu (8/11/2026)
Selain itu, masyarakat perlu membiasakan diri melakukan verifikasi terhadap informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya. Terlebih, perkembangan AI memungkinkan manipulasi konten yang dapat memengaruhi persepsi publik.
Ardi mengingatkan, informasi yang memicu emosi ekstrem sebaiknya tidak langsung dipercaya. Masyarakat perlu melakukan pemeriksaan silang dengan membandingkan informasi dari sejumlah sumber resmi dan kredibel.
Langkah berikutnya adalah mengembangkan digital mindfulness, yakni kesadaran diri ketika berinteraksi di ruang digital. Dengan cara tersebut, seseorang dapat mengenali kapan sebuah konten mulai memengaruhi suasana hati dan meningkatkan tingkat stres.
“Melatih kesadaran diri saat berinteraksi di ruang maya membantu seseorang memisahkan realitas faktual di dunia nyata dengan ilusi psikologis yang diciptakan oleh algoritma media sosial,” katanya.
Ardi juga menekankan pentingnya memperkuat interaksi sosial secara langsung sebagai penyeimbang aktivitas digital. Komunikasi tatap muka dan dukungan dari lingkungan sekitar dinilai dapat membantu mengurangi kecemasan akibat paparan informasi yang berlebihan.
Menurutnya, dukungan sosial di dunia nyata menjadi salah satu cara untuk mengimbangi dampak psikologis yang muncul akibat aktivitas di ruang digital.
Pada akhirnya, pemahaman terhadap cara kerja ekosistem digital menjadi bekal penting agar masyarakat tidak mudah dikendalikan oleh arus informasi.
“Dengan memperkuat ketahanan mental dan literasi digital, kita tidak hanya melindungi diri sendiri dari dampak buruk weaponisasi informasi, tetapi juga turut merawat kewarasan kolektif bangsa di tengah era transformasi digital,” tandasnya.