Daerah

Drama Musikal Echoes of Hope Sekolah Islam Cendekia Muda Himpun Donasi Rp200 Juta untuk Palestina

KORAN MANDALA – Pertunjukan drama musikal Echoes of Hope: Unheard Voices of Palestine yang digelar Sekolah Islam Cendekia Muda berhasil menghimpun donasi lebih dari Rp200 juta untuk masyarakat Palestina. Pertunjukan tersebut berlangsung di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Kota Bandung, Sabtu (7/11/2026).

Kegiatan ini melibatkan hampir 400 siswa dari berbagai jenjang pendidikan yang menyampaikan pesan kemanusiaan melalui perpaduan drama, musik, tari, dan multimedia.

Sutradara pertunjukan, Ahmad Gagah Gattuso, mengatakan pemilihan Palestina sebagai tema dilatarbelakangi keinginan untuk menyuarakan penderitaan sekaligus ketangguhan masyarakat Palestina yang selama ini menghadapi konflik berkepanjangan.

“Selama lebih dari 70 tahun, Palestina terus-menerus menghadapi realita di mana mereka terlindas, terusir, terjajah, dan terhinakan. Namun, selama lebih dari 70 tahun juga, rakyat Palestina selalu bangkit kembali dan membangun ulang apa yang telah dihancurkan dengan menunjukkan resiliensi yang tiada dua,” ujar Ahmad, Minggu (8/11/2026)

Menurutnya, pertunjukan tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengajak masyarakat lebih berani menyuarakan persoalan kemanusiaan di Palestina. Ia menilai berbagai medium dapat digunakan untuk membangun kesadaran publik terhadap penderitaan masyarakat di Gaza.

“Sebagai bagian dari rakyat dunia, kita harus lebih gencar bersuara, menggunakan semua yang kita punya untuk menggemakan kesadaran atas penderitaan saudara-saudara kita di sana,” katanya.

Selain melalui pertunjukan, kegiatan tersebut juga diisi dengan penggalangan dana. Ahmad menyebutkan, terdapat dua lukisan bergambar Masjid Al-Aqsha yang berhasil dilelang. Sementara itu, total donasi yang terkumpul dari masyarakat yang hadir mencapai lebih dari Rp200 juta.

“Alhamdulillah, umat yang hadir juga berhasil menggalang lebih dari Rp200 juta. Insyaallah, semoga bisa sedikit meringankan beban saudara-saudara kita di sana,” ungkapnya.

Sementara itu, Astrada Ulfah Halda mengatakan, pemilihan Palestina bukan semata-mata mengangkat konflik di suatu wilayah, melainkan persoalan kemanusiaan dan keadilan yang perlu ditanamkan kepada anak-anak sejak dini.

Sebagai lembaga pendidikan Islam, pihaknya ingin membangun kepedulian siswa terhadap sesama sekaligus mengajarkan bahwa solidaritas merupakan bagian dari nilai keimanan dan tanggung jawab kemanusiaan.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa kepedulian terhadap sesama bukan sekadar rasa iba, tetapi juga bagian dari nilai keimanan dan tanggung jawab kemanusiaan,” kata Ulfah.

Ia menjelaskan, hampir 400 siswa terlibat dalam berbagai bagian pertunjukan, mulai dari pemeran drama, penari, pemusik, ansambel, hingga bagian pendukung lainnya. Persiapan dilakukan selama kurang lebih dua bulan.

Menurut Ulfah, proses tersebut tidak hanya berorientasi pada hasil pertunjukan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter siswa melalui kerja sama, kedisiplinan, tanggung jawab, dan empati.

“Anak-anak belajar tentang kerja sama, kedisiplinan, tanggung jawab, empati, dan bagaimana menggunakan kemampuan yang mereka miliki untuk sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, seni dipilih sebagai medium penyampaian pesan karena dapat menghadirkan cerita kemanusiaan melalui berbagai bentuk ekspresi. Selain menjadi ruang edukasi, kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan bakat dan potensinya.

“Harapannya, setelah acara ini selesai, kepedulian anak-anak tidak ikut selesai,” katanya.

Dukungan terhadap pertunjukan tersebut juga datang dari orang tua siswa. Ina, salah seorang orang tua murid asal Antapani, berharap keterlibatan anak-anak dalam kegiatan tersebut dapat melatih keberanian sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.

“Mudah-mudahan melatih keberanian serta kepedulian mereka terhadap yang lain, terutama terhadap masalah-masalah seperti Palestina dan masalah-masalah lain,” ujar Ina.

Ia mengatakan, proses latihan berlangsung cukup lama. Namun, anak-anak tidak terlalu mengalami kendala dalam menghadapi penampilan di atas panggung karena sudah terbiasa mengikuti kegiatan sekolah setiap semester.

“Kalau di sekolah Cendekia Mandiri sendiri sering tampil. Jadi, kalau sudah nervous sih mungkin sudah enggak ya, karena mereka setiap semester ada kegiatan. Jadi, untuk nervous enggak, cuma memang banyak gerakan-gerakan yang mesti dihafal saja,” tuturnya.

Ina berharap pengalaman tersebut dapat membuat anak-anak semakin percaya diri dan berani dalam menghadapi berbagai kesempatan.

“Mudah-mudahan mereka bisa lebih berani saja sih, karena yang mahal itu adalah pengalaman, menurut saya,” katanya.

Dalam pertunjukan tersebut, sejumlah publik figur turut hadir memberikan penampilan. Di antaranya Dodi Hidayatullah yang membawakan lagu bertema perjuangan Palestina, Anisa Rahma yang membacakan puisi karya Mahmoud Darwish, serta Annisa Theresia Pardede atau Tere yang menyampaikan monolog.

Melalui pertunjukan ini, Sekolah Islam Cendekia Muda berharap pesan solidaritas dan kepedulian terhadap Palestina tidak berhenti di atas panggung, tetapi terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari para siswa dan masyarakat.

Share