KORAN MANDALA – Senja mulai membiaskan warna keemasan di langit Alun-Alun Cimahi. Di antara keriuhan pedagang kaki lima, tawa anak-anak yang berlarian, dan deru mesin kendaraan yang lalu-lalang, sekelompok anak muda tampak sibuk membentangkan alas seadanya di atas rumput, Jumat (23/10/2026).
Tak lama kemudian, puluhan buku dengan berbagai topik, mulai dari filsafat, politik, sains, hingga sastra, dibentangkan di hadapan publik.
Tidak ada sekat dinding perpustakaan yang kaku, pendingin ruangan, apalagi formalitas mimbar seminar. Di tempat terbuka ini, siapa saja yang melintas bebas untuk singgah, mengambil buku, membaca sejenak, atau sekadar duduk mendengarkan perbincangan yang tengah berlangsung.
Sore itu, Alun-Alun Cimahi bertransformasi dari sekadar tempat melepas lelah warga kota menjadi arena literasi publik yang hidup dan dinamis.
Kegiatan ini tidak berhenti pada aktivitas membaca dalam diam. Usai sesi membaca mandiri, para peserta berkumpul membentuk lingkaran.
Satu per satu peserta mulai membagikan poin-poin penting, gagasan, hingga pertanyaan yang muncul dari buku yang baru saja dibaca.
Bagi mereka, membaca bukanlah aktivitas pasif untuk menimbun wawasan semata, melainkan pijakan awal untuk memahami realitas sosial yang kerap bergejolak di sekitar mereka.
“Kami mengadakan sesi baca buku dan diskusi di Alun-Alun Cimahi. Kalau untuk diskusi, merefleksikan dari hasil bacaan teman-teman yang tadi sudah baca buku, lalu merefleksikan sedikit dari hasil bacaan buku tersebut, lalu kita kaitkan dengan tema sekarang, yaitu dua tahun evaluasi rezim Prabowo dan bencana karhutla di sana,” ujar Axel, salah satu penggerak kegiatan tersebut.
Melalui proses refleksi interaktif ini, setiap peserta diajak untuk menarik benang merah antara gagasan teoretis dalam buku dan isu-isu konkret yang sedang dihadapi bangsa.
Topik yang diangkat dalam diskusi kali ini pun bukan perkara ringan. Para peserta secara khusus menyoroti dua tahun perjalanan pemerintahan Prabowo Subianto serta krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang dan berdampak luas terhadap ekosistem maupun kehidupan masyarakat.
Isu kebijakan nasional dan krisis lingkungan yang kerap terkesan rumit serta berjarak dari kehidupan masyarakat mendadak menjadi dekat dan relevan untuk dibahas.
Di bawah naungan pepohonan alun-alun, gagasan dari buku yang mereka baca diuji secara kritis. Mereka membicarakan efektivitas kebijakan lingkungan pemerintah, keselarasan pembangunan nasional dengan prinsip keberlanjutan lingkungan, hingga peran yang dapat diambil generasi muda dalam mengawal isu-isu strategis tersebut.
Diskusi berlangsung hangat dan inklusif. Warga sekitar yang awalnya hanya menyaksikan dari kejauhan pun beberapa kali tampak menganggukkan kepala, larut dalam perbincangan yang membahas persoalan lingkungan dan arah perjalanan bangsa secara terbuka.
Inisiatif Axel dan rekan-rekannya menunjukkan bagaimana literasi jalanan dapat menghidupkan fungsi ruang publik sebagai wadah pertukaran gagasan dan partisipasi masyarakat.
Di tengah arus informasi digital yang serba cepat, ruang diskusi tatap muka seperti ini menghadirkan kesempatan untuk berpikir lebih mendalam dan bertukar perspektif. Gerakan membaca di Alun-Alun Cimahi ini menjadi salah satu bentuk keterlibatan anak muda dalam merespons persoalan sosial dan kebijakan publik.
Di tangan mereka, buku menjadi sarana untuk membuka cakrawala, sementara diskusi jalanan menjadi ruang untuk merawat kepedulian terhadap isu lingkungan dan arah kebijakan negara melalui pertukaran gagasan yang kritis.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






