Gedung Sate Pusat Pemerintahan Provinsi Jawa Barat(@arivinwijay)
KORAN MANDALA – Peningkatan nilai ekspor nasional dinilai perlu diikuti kesiapan sumber daya manusia (SDM) agar mampu memberikan dampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja lokal, khususnya di Jawa Barat yang tengah menghadapi pergeseran struktur industri.
Pengamat Ekonomi Universitas Insan Cendikia Mandiri, Deni Rizky, mengatakan penguatan kualitas SDM menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan peluang pertumbuhan ekspor dapat dimanfaatkan masyarakat.
Menurutnya, investasi di sektor manufaktur modern, termasuk industri kendaraan listrik, mendorong perubahan kebutuhan tenaga kerja. Sementara itu, industri padat karya seperti tekstil menghadapi pergeseran yang berpotensi berdampak terhadap pekerja.
ADVERTISEMENT
Tanpa pembekalan keterampilan yang sesuai, pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari industri lama akan kesulitan memasuki sektor industri baru.
Deni juga menyoroti kecenderungan pekerja terdampak PHK yang beralih ke sektor informal, termasuk membuka usaha mikro. Jika tidak diimbangi daya beli masyarakat dan peluang pasar yang memadai, kondisi tersebut berisiko menimbulkan persaingan usaha yang semakin ketat.
“Jangan sampai yang di PHK ini semuanya beralih berjualan hingga terjadi over supply UMKM. Banyak yang berjualan, tetapi daya beli tidak ada karena tidak ada yang bekerja di sektor formal. Di sinilah pemerintah harus hadir memberikan pelatihan yang relevan,” ujar Deni saat diwawancarai, Rabu (21/10/2026).
Ia mendorong pemerintah memperkuat program pelatihan vokasi serta sertifikasi keahlian melalui skema peningkatan dan pengalihan keterampilan atau reskilling dan upskilling bagi pekerja terdampak PHK.
Program tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan industri, terutama sektor otomotif dan energi hijau. Dengan begitu, pekerja memiliki bekal kompetensi untuk memasuki bidang pekerjaan baru seiring perubahan teknologi dan kebutuhan pasar.
Selain menyasar pekerja terdampak PHK, pemerintah juga diminta memperkuat keterhubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri agar lulusan baru memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
“Pemerintah harus menjembatani antara perguruan tinggi dengan sektor industri. Apa yang dibutuhkan industri saat ini, kurikulum di perguruan tinggi harus disesuaikan agar alumni yang lulus benar-benar siap kerja,” kata Deni.
Ia mencontohkan, perguruan tinggi perlu menyesuaikan kurikulum dan fasilitas praktik dengan perkembangan teknologi, termasuk kendaraan listrik. Penyesuaian tersebut dinilai penting agar lulusan tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki keterampilan yang dibutuhkan industri.
Deni menilai, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku industri diperlukan untuk menyelaraskan pendidikan, pelatihan kerja, serta kebutuhan tenaga kerja.
Melalui langkah tersebut, peningkatan ekspor diharapkan tidak hanya mendorong aktivitas ekonomi, tetapi juga membuka peluang kerja dan meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal di Jawa Barat.
KORAN MANDALA – Kondisi bahu dan badan jalan yang mengalami penurunan permukaan di sejumlah ruas…
KORAN MANDALA – Sejumlah mahasiswa Universitas Langlangbuana (Unla) menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD…
KORAN MANDALA – Kapasitas pelayanan rumah sakit di Kabupaten Garut masih menghadapi tantangan besar. Dengan jumlah…
KORAN MANDALA – Sejumlah fasilitas di Taman Cempaka atau Taman Fotografi, Jalan Taman Cempaka, Kelurahan…
KORAN MANDALA –Niat berangkat ke masjid pada Minggu dini hari (18/10/2026) justru membuat seorang warga…
KORAN MANDALA – Persib Bandung mulai mendapat angin segar terkait kondisi gelandang asingnya, Gakuto Notsuda. Setelah…