KORAN MANDALA – Pelaksanaan program GEMA Jabar yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) mendapat sejumlah catatan dari mahasiswa peserta.
Persiapan yang dinilai belum matang berdampak pada kebingungan mahasiswa terkait birokrasi, pelaporan, hingga pembayaran honor.
Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berinisial A (20), yang mengikuti program tersebut, mengungkapkan honor yang semula dijanjikan dibayarkan setiap bulan justru diterimanya secara rapel untuk empat bulan pada awal Oktober 2026.
ADVERTISEMENT
Total honor yang diterima A mencapai Rp2 juta, dengan perhitungan Rp500.000 per bulan.
“Awalnya pemerintah provinsi menjanjikan untuk honor itu perbulan ya, Tapi nyatanya dirapel empat bulan jadinya sampai Oktober,” ujar A saat diwawancarai koran mandala, Senin (19/10/2026).
Menurut A, persoalan tersebut menjadi salah satu hal yang perlu dievaluasi dalam pelaksanaan GEMA Jabar. Ia menilai program yang baru dibentuk seharusnya dipersiapkan secara lebih matang sebelum diterapkan.
“Menurut saya , persiapannya harus lebih matang. Program ini terlalu dini untuk dilaksanakan. Baru banget dibikin programnya, tapi sudah langsung dilaksanakan. Makanya, banyak persiapan yang kurang matang,” katanya.
Selain pembayaran honor, A mengungkapkan mahasiswa juga menghadapi kebingungan dalam urusan birokrasi dengan pihak sekolah dan mekanisme pelaporan. Menurutnya, kejelasan prosedur diperlukan agar mahasiswa dapat menjalankan tugas dengan lebih terarah.
“Dari awal, dari sistem birokrasi ke sekolahnya, kita tuh banyak bingungnya. Terus dari pelaporan, kemudian pembayarannya yang dijanjikan. Jadi, kita banyak bingungnya,” tuturnya.
Meski demikian, A mengakui program GEMA Jabar memberikan manfaat bagi sekolah yang kekurangan tenaga pendidik.
“Tujuan program ini kan untuk mengisi kekosongan guru.Ternyata, memang faktanya di sekolah yang aku ajar memang kekurangan guru, Jadi, memang sesuai dengan daftar kuota yang dibutuhkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan mahasiswa peserta GEMA Jabar turut membantu kegiatan pembelajaran di sekolah tersebut.
“Dengan kehadiran saya di sekolah yang saya ajar memang sangat terbantu dengan adanya GEMA Jabar ini,” katanya.
A menjelaskan, pada awalnya keikutsertaan mahasiswa dalam program tersebut di program studinya bersifat opsional. Namun, dalam perkembangannya, program studi yang saya tempuh mengharuskan mahasiswa angkatannya mengikuti GEMA Jabar.
“Awalnya memang tidak diwajibkan untuk mengikuti program ini, seiring waktu berjalan ternyata studi saya mengharuskan mahasiswa mengikuti Gema Jabar ini” ungkapnya.
Keikutsertaan tersebut juga dikonversi ke dalam satuan kredit semester (SKS). Untuk penempatan, mahasiswa diberikan daftar sekolah yang membutuhkan tenaga pengajar dan dapat memilih sekolah sesuai kebutuhan yang tersedia.
“Jadi sistemnya ada daftar sekolah yang kekurangan guru, terus kita ngelist sekolah mana yang mau kita ajar baru dikirim ke pihak universitas” katanya
Ia berharap Pemprov Jabar dapat mengevaluasi persiapan dan mekanisme pelaksanaan program, terutama terkait koordinasi dengan sekolah, sistem pelaporan, serta pembayaran honor.
“Harapannya Gema Jabar ini sebetulnya plus minus programnya bagus.Namun perlu adanya evaluasi yaa mengenai pelaksanaan programnya.” tutupnya
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






