KORAN MANDALA – Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Maulana Yusuf Erwinsyah, menyoroti pelaksanaan Program Penguatan Profesi Bidang Kependidikan Gerakan Mahasiswa Mengajar Jawa Barat (PROBIDIK GEMA Jabar).
Ia menilai, sejumlah persoalan teknis dalam program tersebut perlu dievaluasi, mulai dari ketidaksesuaian bidang keilmuan mahasiswa dengan mata pelajaran yang diajarkan hingga pembayaran yang disebut tersendat.
Maulana menyayangkan munculnya gagasan untuk melibatkan mahasiswa dalam berbagai persoalan di luar fokus program, sementara pelaksanaan GEMA Jabar sendiri dinilai belum berjalan optimal.
ADVERTISEMENT
“Saya sangat disayangkan saja ide-ide kreatif yang menurut saya tidak pada tempatnya,” ujar Maulana Minggu (18/10/2026)
Menurutnya, persoalan mendasar dalam pelaksanaan GEMA Jabar terlihat dari ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan mahasiswa calon guru dan bidang yang diajarkan di sekolah.
“Mahasiswa ketika ikut kegiatan GEMA Jabar saja, ini tersendat-sendat. Dari mulai tidak sesuai seorang guru, calon guru, mahasiswa calon guru berpendidikan A misalkan untuk mengajar B. Satu masalah itu, tidak linearnya keilmuan dengan yang diajarkan,” katanya.
Selain persoalan kesesuaian bidang keilmuan, Maulana juga menyoroti pembayaran kepada mahasiswa yang disebut belum berjalan lancar sesuai janji pemerintah.
“Kedua, fakta menyebutkan bahwa janji bayaran dari pemerintah juga tersendat. Banyak hal-hal yang secara teknis ini tidak berjalan dengan baik karena kegagalan perencanaan, mungkin seperti itu,” ucapnya.
Sorotan tersebut menjadi catatan bagi pemerintah daerah dan pihak terkait untuk mengevaluasi pelaksanaan program, terutama dalam memastikan kesesuaian penempatan mahasiswa, kelancaran pembayaran, serta perencanaan yang lebih matang.
Sebelumnya, sebanyak 1.148 mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dilepas untuk mengikuti PROBIDIK GEMA Jabar pada 13 Juli 2026. Program kolaborasi UPI dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat itu bertujuan memperkuat pengalaman profesional mahasiswa calon guru sekaligus membantu sekolah yang mengalami kekurangan tenaga pendidik.
Rektor UPI, Prof. Didi Sukyadi,menjelaskan bahwa program tersebut merupakan kegiatan akademik yang diakui setara dengan 20 satuan kredit semester (SKS). Program itu, menurutnya, bukan untuk menggantikan guru honorer maupun menjadi bentuk alih daya tenaga pendidik.
Ia menyebutkan kebutuhan guru di Jawa Barat mencapai sekitar 6.000 orang. Karena itu, kehadiran mahasiswa peserta GEMA Jabar diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam membantu mengatasi kekurangan tenaga pendidik.
“Kebutuhan guru di Jawa Barat mencapai sekitar 6.000 orang. Kehadiran 1.147 mahasiswa UPI memang belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan tersebut, tetapi diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata. Jika program ini berhasil, kami berharap perguruan tinggi lain juga dapat terlibat sehingga persoalan kekurangan guru dapat ditangani secara bersama-sama,” ujarnya dikutip Minggu, (18/10/2026).
Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi masih berupaya mengonfirmasi kepada mahasiswa peserta GEMA Jabar terkait kelancaran pembayaran honor yang disoroti tersebut.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






