KORAN MANDALA – Cerobong tinggi dan dinding batu tua bekas Pabrik Teh Montaya masih berdiri kokoh di kawasan pegunungan Gunung Halu. Bangunan yang dahulu menjadi pusat pengolahan teh sejak 1908 itu kini memiliki wajah berbeda.
Setiap Kamis pagi, pelatarannya dipenuhi pedagang dan pembeli yang menghidupkan aktivitas ekonomi warga melalui Pasar Kamis Montaya.
Dahulu, bangunan yang dikenal dengan nama NV Cultuur My tersebut menjadi bagian dari aktivitas industri teh di kawasan Gunung Halu.
ADVERTISEMENT
Mesin-mesin pengolahan bekerja mengolah pucuk daun teh, sementara kendaraan pengangkut hasil perkebunan keluar masuk area pabrik.
Seiring berjalannya waktu, aktivitas industri di bangunan tersebut meredup. Namun, kawasan itu tidak sepenuhnya kehilangan denyut kehidupan.
Pelataran bekas pabrik justru berkembang menjadi pasar mingguan yang menjadi salah satu tempat warga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kebiasaan berjualan dan berbelanja di kawasan tersebut telah berlangsung selama belasan tahun. Bagi masyarakat setempat, Pasar Kamis Montaya bukan sekadar pasar kaget, melainkan bagian dari kehidupan ekonomi dan sosial yang terus bertahan di tengah perubahan zaman.
“Wah, udah 15 tahun meren (mungkin) ini mah udah dijadikan pasar setiap hari Kamis,” tutur Nunung, seorang warga lokal saat ditemui di Pasar Kamis Montaya.
Aktivitas perdagangan di pasar tersebut dimulai sejak pagi hari. Para pedagang datang membawa berbagai barang dagangan, kemudian menempati pelataran dan area terbuka di sekitar bangunan tua.
Sebagian memasang terpal sebagai pelindung, sementara lainnya menggelar dagangan langsung di atas tikar.
Pasar mulai beroperasi sekitar pukul 06.00 WIB dan berlangsung hingga tengah hari. Dalam waktu enam jam, kawasan yang biasanya relatif tenang berubah menjadi ruang pertemuan antara pedagang, pembeli, petani, dan peternak.
“Bukanya sih dari pagi jam 06.00 WIB sampai jam 12.00 WIB,” kata Nunung.
Berbagai kebutuhan masyarakat tersedia di pasar ini. Mulai dari sayuran segar, beras, kebutuhan rumah tangga, hingga hewan ternak seperti domba dapat ditemukan di antara deretan lapak pedagang.
“Pasar sayuran, beras, domba. Apa pun segala ada,” ujar Nunung.
Di antara lapak-lapak tersebut, sayuran hasil pertanian menjadi salah satu komoditas yang dijajakan kepada pembeli.
Berbagai kebutuhan pangan berdampingan dengan komoditas peternakan yang turut meramaikan transaksi di pasar mingguan tersebut.
Keberagaman barang dagangan membuat Pasar Kamis Montaya menjadi salah satu tujuan warga untuk berbelanja tanpa harus pergi ke pusat perdagangan yang lebih jauh.
Kehadirannya juga menyediakan ruang transaksi bagi para pedagang untuk menawarkan barang kepada masyarakat sekitar.
Di sisi lain, pemanfaatan pelataran bekas pabrik menjadi pasar menunjukkan perubahan fungsi ruang yang mengikuti kebutuhan masyarakat.
Bangunan yang dahulu berkaitan erat dengan kegiatan industri teh kini menjadi latar aktivitas perdagangan rakyat. Perubahan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana kawasan bersejarah tetap dapat memiliki peran dalam kehidupan masyarakat, meskipun fungsi awalnya telah bergeser.
Setiap Kamis pagi, riuh tawar-menawar dan aktivitas jual beli kembali memenuhi pelataran Montaya. Deru mesin pengolahan teh yang pernah mewarnai masa lalu kawasan itu kini berganti dengan kesibukan pasar, tempat warga mencari kebutuhan sehari-hari sekaligus menjaga roda ekonomi lokal tetap berputar.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






