KORAN MANDALA –Di tengah riuk-pikuk perkembangan era modernisasi yang kian pesat dan melingkupi wilayah perkotaan, sebuah pemukiman tradisional di Jawa Barat tetap kokoh menggenggam erat kebudayaan serta tradisi leluhur.
Kampung Adat Cireundeu, yang terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, hadir bagaikan sebuah oase kebudayaan yang syarat akan nilai-nilai spiritual dan kemandirian hidup.
Ketika mayoritas masyarakat Indonesia bergantung sepenuhnya pada beras padi sebagai konsumsi harian, warga Kampung Adat Cireundeu justru memiliki cara tersendiri dalam memelihara kelangsungan hidup mereka.
Banjir Bandung Butuh Rp800 Miliar, Pemkot Akui Tak Sanggup Andalkan APBD
Sejak tahun 1929, masyarakat di sini telah mengalihkan konsumsi makanan pokok mereka. Makanan utama di Cireundeu yaitu olahan singkong atau rasi sebagai sumber karbohidrat utama untuk menjaga ketahanan pangan.
Olahan rasi singkatan dari beras singkong, dimasak dengan cara ditanak atau dikukus seperti beras pada umumnya, namun menyimpan cerita panjang tentang ikhtiar dan kemandirian sebuah komunitas adat.
Keberadaan kampung adat ini bukanlah hal yang baru dalam lintasan sejarah di Nusantara. Jejak rekam keberadaannya telah mengakar kuat selama berabad-abad, menjadi saksi bisu perjalanan zaman yang terus berganti.
“Kampung adat cireundeu sudah ada diperkirakan antara abad enam belas-tujuh belasan.” Ujar Jajat, Pengelola wisata kampung Adat Cireundeu.
Nama wilayah ini pun menyimpan filosofi mendalam yang erat kaitannya dengan kondisi lingkungan alam pada masa lalu. Hubungan harmonis antara manusia dan ruang hidupnya tecermin jelas dalam asal-usul penamaannya.
“Nama Cireundeu sendiri di ambil dari kecap Ci sama Reundeu, Ci itu kan kata orang sunda itu identik dengan cai atau air, Reundeu adalah jenis tumbuhan. Dimana dulu, di wilayah mata air kami itu banyak tumbuh pohon reundeu, maka dinamakanlah kampunya, kampung Cireundeu” Ujar Jajat.
Keunikan tradisi pangan berbasis olahan singkong tersebut berjalan seiring dengan nilai-nilai spiritualitas dan kearifan lokal yang terus dirawat oleh warganya. Sebagian besar warga memegang teguh ajaran kepercayaan sunda wiwitan serta menjaga kelestarian alam dan adat istiadat leluhur.
Bagi warga adat, alam bukan sekadar ruang untuk dieksploitasi, melainkan entitas yang harus dihormati, dijaga, dan dirawat kelestariannya. Prinsip hidup harmonis bersama alam ini tecermin dalam pola hidup sehari-hari, cara bertani, hingga ritual-ritual adat yang rutin diselenggarakan.
Di tengah kepungan modernisasi, pembangunan yang pesat, dan perubahan pola hidup masyarakat luas, keteguhan warga Kampung Adat Cireundeu dalam merawat tradisi, menjaga ajaran kepercayaan leluhur, serta konsisten mempertahankan kemandirian pangan melalui konsumsi rasi menjadi cermin berharga.
Mereka membuktikan bahwa kearifan lokal tidak terlindas oleh zaman, melainkan sanggup menjadi benteng pertahanan budaya dan ketahanan pangan yang relevan sepanjang masa.
