KORAN MANDALA –Proyek Bus Rapid Transit (BRT) Kota Bandung yang digadang-gadang menjadi solusi transportasi massal justru masih menjadi sumber keluhan warga.
Pengerjaan di sejumlah ruas jalan memicu kemacetan, sementara pemerintah kini dituntut memastikan proyek tersebut tidak berlarut-larut dan benar-benar selesai sesuai target.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui dampak pembangunan BRT terhadap lalu lintas. Ia bahkan menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat yang harus menghadapi kemacetan akibat pengerjaan proyek tersebut.
ADVERTISEMENT
BRT Bandung Rampung 2027, Pemerintah Diminta Siapkan Antisipasi
Farhan mengatakan, laporan mengenai kemacetan telah diterima Pemerintah Kota Bandung sejak 14 Agustus 2026. Sejumlah alasan dari kontraktor telah disampaikan terkait kondisi di lapangan, tetapi menurut Farhan, alasan tersebut tidak boleh menjadi pembenaran atas gangguan yang dirasakan masyarakat.
“Saya dapat laporan tertulis. Keluhan-keluhan macet ini memang sudah kita deteksi sejak 14 Agustus yang lalu. Ada berbagai alasan dari kontraktor, tetapi buat saya itu bukan alasan. Yang paling penting adalah bagaimana BRT ini benar-benar bisa memberikan manfaat bagi warga Bandung,” ujar Farhan saat ditemui seusai kegiatan Bandung Great Sale 2026 di Laswi Heritage, Jumat (21/8/2026).
Proyek Belum Selesai, Kepercayaan Warga Terancam
Persoalan kemacetan membuat citra pembangunan BRT di mata masyarakat belum sesuai dengan tujuan awalnya. Transportasi massal yang seharusnya menjadi solusi kemacetan justru untuk sementara menambah beban lalu lintas.
Farhan mengakui persepsi negatif tersebut. Karena itu, ia menegaskan akan mengawal pembangunan BRT dari proses pengerjaan hingga nantinya benar-benar beroperasi.
“Sekarang terus terang, mohon maaf pisan, BRT ini masih terpersepsikan sangat negatif di mata warga Bandung,” katanya.
Menurut Farhan, pekerjaan di sejumlah titik saat ini berkaitan dengan penataan koridor BRT, termasuk trotoar dan median jalan. Pekerjaan tersebut menjadi salah satu faktor yang berdampak terhadap kelancaran lalu lintas.
Ia meminta proses pengerjaan dilakukan lebih cepat dan tertata agar gangguan terhadap pengguna jalan tidak semakin panjang.
“Saya mohon maaf sekali karena menimbulkan kemacetan, tetapi saya akan pastikan pengerjaannya cepat, rapi, dan tidak menimbulkan kecelakaan,” tuturnya.
Ditargetkan Rampung 2027
Pemerintah Kota Bandung menargetkan pembangunan sistem BRT secara keseluruhan rampung pada 2027. Setelah konstruksi selesai, layanan BRT diharapkan dapat beroperasi penuh tanpa kembali disertai pekerjaan konstruksi yang mengganggu lalu lintas.
Rencana tersebut mencakup sejumlah koridor utama yang menghubungkan kawasan pusat kota dengan beberapa titik strategis. Salah satunya dari Alun-alun Bandung menuju Jalan Sudirman, Rajawali, kawasan Stasiun Bandung, Otista, Tegalega hingga kembali ke pusat kota.
Koridor lainnya meliputi Alun-alun, Banceuy, Ahmad Yani, Kiaracondong, Jalan Jakarta, Simpang Lima, Asia Afrika, hingga kembali ke Alun-alun Bandung.
Pada koridor tersebut akan diterapkan jalur khusus atau dedicated lane yang dilengkapi separator sehingga armada BRT memperoleh prioritas dalam pergerakan.
Namun, sebelum manfaat tersebut benar-benar dirasakan, pemerintah masih memiliki pekerjaan besar: memastikan konstruksi selesai tepat waktu, mengendalikan dampak kemacetan selama pembangunan, serta menjaga keselamatan pengguna jalan.
Warga Diminta Ikut Mengawasi
Farhan juga membuka ruang bagi masyarakat dan media untuk mengawasi pengerjaan proyek BRT. Keluhan mengenai kemacetan maupun persoalan di lapangan diminta segera dilaporkan kepada pemerintah.
“Kalau ada kemacetan atau hal-hal yang tidak memuaskan, laporkan segera. Boleh ke 112, boleh melalui media sosial. Teman-teman wartawan juga silakan mengawasi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menempatkan penyelesaian proyek sebagai pekerjaan yang harus dipantau bersama. Sebab, semakin lama pekerjaan berlangsung tanpa pengendalian yang baik, semakin besar pula beban yang harus ditanggung pengguna jalan.
Farhan menegaskan BRT merupakan bagian dari rencana jangka panjang transportasi Kota Bandung. Setelah BRT berjalan optimal, Pemkot Bandung bahkan membidik pengembangan moda transportasi berbasis rel ringan atau Light Rail Transit (LRT).
“Karena ada mimpi berikutnya, yaitu LRT. Tapi itu nanti. Yang sekarang kita fokus memastikan BRT berjalan baik dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.
Untuk saat ini, target Pemkot Bandung sederhana tetapi krusial: menyelesaikan BRT terlebih dahulu.
Sebab, sebelum berbicara mengenai LRT dan masa depan transportasi Bandung, pemerintah harus lebih dulu membuktikan bahwa proyek BRT yang sedang berjalan mampu selesai dengan cepat, aman, dan tidak terus membebani warga dengan kemacetan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






