KORAN MANDALA – Misi kemanusiaan di tengah bencana gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) berubah menjadi kabar duka. Relawan sekaligus Founder Yayasan Gerak Bareng, Ahmad Zaki Ali, meninggal dunia ketika tengah menjalankan tugas menyalurkan bantuan kepada warga terdampak di Kabupaten Manggarai Timur, Jumat (21/8/2026).
Ahmad Zaki meninggal saat berada di wilayah Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara. Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia bersama tim relawan diketahui tengah bergerak untuk mendistribusikan bantuan sekaligus melakukan asesmen kebutuhan masyarakat terdampak gempa.
Salah satu rekan almarhum sesama relawan kemanusiaan sekaligus Tim Hands Foundation, Muhammad Rafki Razif Kiransyah, membagikan cerita mengenai kronologis sebelum Ahmad Zaki meninggal dunia.
Rafki mengatakan, dirinya telah bersama dengan almarhum selama enam hari untuk menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak gempa di NTT.
Selama menjalankan misi kemanusiaan tersebut, Rafki menyebut Ahmad Zaki tidak pernah mengeluhkan kondisi kesehatannya meski aktivitas penyaluran bantuan cukup tinggi. Mereka bahkan sempat bermalam di Masjid Raya Reo dan wilayah Ruteng.
“Selama kurang lebih enam hari gitu kita sama-sama. Dari hari Senin, kita bareng-bareng ngeliat almarhum itu semangat. Terus sehat, gak ada keluhan sakit apa-apa terus juga gak keliatan kayak orang sakit gitu,” kata Rafki saat dihubungi, Minggu (23/8/2026).
Rafki menuturkan, sebelum meninggal dunia, dirinya bersama Ahmad Zaki berencana mendistribusikan sekitar 30 paket bantuan ke Desa Satar Padut, Kabupaten Manggarai Timur, sekitar pukul 14.00.
Saat itu, Rafki dan Ahmad Zaki berada dalam satu mobil bersama tim lainnya. Setelah menyelesaikan penyaluran bantuan, mereka kemudian memutar arah untuk melakukan asesmen terhadap kebutuhan para korban.
Namun, kejadian tidak terduga terjadi dalam perjalanan tersebut. Rafki sempat mendengar Ahmad Zaki mengucapkan istigfar sebelum kemudian tidak sadarkan diri di dalam mobil.
“Nah, gak lama dari kita muter balik dari tempat penyaluran terakhir sekitar 5 meter, beliau sempat berhenti. Terus yang kedengeran sama kita di mobil itu beliau istighfar, ‘Astagfirullah’ terus berhenti dan mulai gak sadarkan diri. Nah di situ kita juga kaget, panik,” ungkapnya.
Melihat kondisi tersebut, almarhum langsung dilarikan ke posko medis menggunakan kendaraan milik warga. Sesampainya di posko kesehatan, Ahmad Zaki langsung mendapat penanganan dari tim medis.
Namun, upaya penyelamatan tersebut tidak berhasil. Ahmad Zaki akhirnya dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 16.40.
“Nah terus, alhamdulillah ada bantuan dari mobil warga di sana, bantu untuk mengantar ke posko kesehatan ke medis. Lalu sesampainya di medis, sama tim medis juga sudah dilakukan pengupayaan untuk menyadarkan kembali. Itu kalau tidak salah sudah dilakukan apa, CPR sebanyak tujuh kali siklus besar gitu untuk pompa jantungnya. Tapi Qodarullah almarhum tidak bisa diselamatkan gitu, memang sudah waktunya almarhum istirahat,” tutur Rafki.
Rafki juga mengungkapkan, tim medis sempat menemukan sejumlah obat pribadi milik Ahmad Zaki. Salah satu obat tersebut disebut merupakan obat untuk penyakit hipertensi.
“Dan sempat di cek juga di kantongnya itu ada obat-obat pribadi. Rafki kurang inget gitu detailnya obat apa aja, cuman yang kemarin disebut sama dokternya, ‘Oh ini ada obat hipertensi’ gitu,” tambah dia.
Kepergian Ahmad Zaki meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekan sesama relawan. Terlebih, selama menjalankan misi kemanusiaan di NTT, almarhum terlihat sehat dan tetap bersemangat menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak gempa.
Rafki mengaku sempat panik dan gemetar ketika melihat kondisi Ahmad Zaki tiba-tiba tidak sadarkan diri. Dalam situasi tersebut, ia bersama tim hanya berupaya memberikan pertolongan secepat mungkin agar almarhum dapat segera dibawa ke posko medis.
“Nah, karena di situ Rafki bener-bener panik, terus gemeter gitu di samping beliau banget dan gak bisa mikir apa-apa juga. Yang penting nyelamatin beliau sampai dengan posko medis aja. Karena bingung juga kondisi kita lagi penyaluran, lagi pendistribusian kayak gitu, tiba-tiba kejadian hal yang tidak diinginkan,” pungkas Rafki
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






