KORAN MANDALA – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas warga di kawasan Pasar Adumanis, Desa Cikeris, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, masih ada kehidupan yang berjalan dalam kondisi memprihatinkan. Seorang pria lanjut usia, Endang Suryana (60), harus bertahan hidup bersama keluarganya di tengah rumah yang sebagian bangunannya telah lama roboh.
Endang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek. Dari penghasilan yang tidak menentu itu, ia harus memenuhi kebutuhan tiga anak serta seorang anak yatim yang ikut menjadi tanggungannya. Di usia yang seharusnya mulai menikmati masa tua, Endang justru masih harus berjuang mencari penghasilan demi memastikan keluarganya tetap bisa makan dan memiliki tempat untuk berteduh.
Rumah yang ditempatinya pun jauh dari kata layak. Sebagian bangunan utama telah ambruk dan tidak lagi dapat digunakan. Dengan keterbatasan ekonomi, Endang hanya mampu membangun satu kamar sederhana, dapur, serta kamar mandi di bagian belakang rumah.
ADVERTISEMENT
“Rumahnya sempat ambruk. Sekarang keluarga hanya menempati bangunan belakang yang dibangun seadanya. Kondisinya seperti itu sudah cukup lama, tapi sampai sekarang belum ada perbaikan yang berarti,” ujar adid salah seorang mahasiswa KKN yang mengetahui kondisi rumah Endang. pada, Jum’at (21/8/2026)
Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Di mana perhatian pemerintah desa ketika masih ada warga lanjut usia yang harus bertahan di rumah dengan kondisi memprihatinkan?
Warga menilai, kondisi rumah Endang bukan persoalan yang semestinya dibiarkan berlarut-larut. Apalagi, keluarga tersebut memiliki keterbatasan ekonomi dan hanya mengandalkan penghasilan dari pekerjaan sebagai tukang ojek.
“Kalau memang ada warga yang kondisinya seperti ini, apalagi sudah lansia dan rumahnya tidak layak, seharusnya pemerintah desa bisa turun melihat langsung. Jangan sampai warga yang kesulitan justru merasa tidak diperhatikan,” kata warga lainnya.
Bagi keluarga Endang, memperbaiki rumah bukan perkara sederhana. Penghasilan yang didapat setiap hari lebih banyak habis untuk memenuhi kebutuhan makan dan kebutuhan anak-anak yang menjadi tanggungannya.
Sementara itu, bangunan rumah yang telah rusak masih berdiri dalam kondisi memprihatinkan. Sebagian ruangan tidak dapat digunakan, sehingga keluarga harus bertahan di bangunan kecil yang dibangun di bagian belakang rumah.
Persoalan ini menjadi gambaran bahwa perhatian terhadap masyarakat tidak cukup hanya berhenti pada pendataan atau mengetahui adanya warga yang membutuhkan bantuan. Ketika seorang lansia harus hidup dalam rumah yang sebagian bangunannya roboh, kehadiran pemerintah di tingkat paling dekat dengan masyarakat menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan.
Pemerintah desa semestinya menjadi pihak pertama yang mengetahui kondisi warganya. Terlebih, pemerintah desa memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat dan dapat menjadi penghubung untuk mengupayakan bantuan, baik melalui program desa maupun pemerintah daerah.
Rumah Endang berada di kawasan Pasar Adumanis, Jalan Wanayasa-Bojong, RT 01/RW 01, Desa Cikeris, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta. Lokasinya berada tidak jauh dari akses jalan yang biasa dilalui masyarakat.
Kini, keluarga Endang masih menunggu perhatian dan bantuan agar dapat memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan layak. Di tengah keterbatasan ekonomi dan tanggung jawab menghidupi keluarga, harapan sederhana itu masih mereka gantungkan kepada pemerintah.
Kisah Endang pun menjadi pengingat bahwa di balik pembangunan dan berbagai aktivitas pemerintahan, masih ada warga yang membutuhkan perhatian secara langsung. Pertanyaannya, sampai kapan seorang lansia harus bertahan di rumah yang nyaris tak layak huni.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






