ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA – Di tengah kemeriahan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Provinsi Jawa Barat, masyarakat menyelipkan sejumlah pekerjaan rumah yang dinilai perlu mendapat perhatian pemerintah. Pelestarian budaya, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hingga transportasi publik menjadi sorotan warga.
Pesan tersebut mengemuka dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD Jawa Barat dalam rangka HUT ke-81 Jawa Barat yang digelar di pelataran Gedung Sate, Bandung, Rabu (19/8/2026).
Bagi masyarakat, bertambahnya usia Jawa Barat tidak cukup dirayakan dengan seremoni. Momentum tersebut dinilai perlu menjadi ruang evaluasi terhadap berbagai persoalan yang masih dihadapi warga.
ADVERTISEMENT
Ketua DPRD Jawa Barat, Dr. H. Buky Wibawa Karya Guna, M.Si., dalam rapat paripurna turut menyoroti pentingnya keberpihakan pemerintah terhadap pelaku seni dan budaya, khususnya para maestro yang telah memasuki usia lanjut.
Menurut Buky, Jawa Barat memiliki kekayaan seni dan budaya yang besar, termasuk lebih dari 100 produk warisan budaya takbenda yang telah didaftarkan melalui kerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.
Ia mendorong pemerintah memberikan perhatian lebih kepada para maestro agar pengetahuan dan keterampilan mereka tidak berhenti pada satu generasi.
“Sudah saatnya pemerintah hadir untuk memperhatikan para maestro seni budaya. Jangan sampai di usia tua mereka masih tertatih-tatih mencari rezeki,” ujar Buky dalam rapat paripurna.
Menurutnya, para maestro juga perlu diberikan ruang untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan seni budaya kepada generasi muda.
Pesan mengenai pelestarian budaya tersebut mendapat perhatian dari warga yang hadir. Andhara Raditta (21) menilai budaya tradisional menghadapi tantangan di tengah perkembangan teknologi dan media sosial.
Ia melihat kesenian tradisional semakin jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari maupun mendapat ruang di media sosial. Karena itu, momentum HUT Jawa Barat dinilai dapat menjadi titik dorong agar kesenian tradisional kembali dekat dengan generasi muda.
“Kalau budaya tidak dikenalkan dan diberikan ruang kepada generasi muda, lama-lama bisa semakin jauh dari kehidupan sehari-hari,” kata Andhara.
Tak hanya budaya, persoalan transportasi publik juga menjadi perhatian Andhara. Ia menilai peningkatan kualitas dan jangkauan transportasi umum penting dilakukan untuk menghadapi persoalan kemacetan, terutama di wilayah perkotaan.
“Kalau dilihat dari volume kendaraan di Bandung itu cukup banyak, apalagi kalau misalnya weekend itu kadang suka macet,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah memperkuat layanan transportasi publik, termasuk bus dan kereta, serta memperluas jangkauannya ke wilayah yang masih minim akses.
Menurut Andhara, penguatan transportasi publik juga harus dibarengi dengan upaya mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.
Sementara itu, Zahra Syakira (20) menyoroti tiga sektor yang dinilainya menjadi fondasi pembangunan Jawa Barat, yakni pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.
Menurut Zahra, pendidikan harus menjadi salah satu prioritas karena kualitas pendidikan berkaitan langsung dengan masa depan generasi muda.
“Yang harus dibenahi, lagi-lagi pastinya pendidikan karena itu tiang. Pendidikan itu benar-benar menciptakan anak bangsa,” ujar Zahra.
Selain pendidikan, ia berharap akses layanan kesehatan semakin mudah dijangkau masyarakat. Pembangunan infrastruktur juga dinilai perlu terus diperkuat agar tidak hanya terpusat di kawasan tertentu, tetapi manfaatnya dapat dirasakan secara lebih merata.
Zahra juga mengapresiasi pelaksanaan rapat paripurna yang dibuka untuk masyarakat. Namun, ia berharap keterlibatan publik dalam kegiatan serupa dapat ditingkatkan.
Menurutnya, masyarakat seharusnya tidak hanya ditempatkan sebagai penonton dalam perayaan hari jadi daerah. Warga juga perlu diberikan ruang untuk menyampaikan aspirasi dan terlibat dalam berbagai kegiatan sejak tahap awal.
Harapan tersebut menjadi catatan di usia 81 tahun Jawa Barat. Di balik panggung perayaan dan berbagai seremoni, warga masih menaruh ekspektasi terhadap persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
Pelestarian budaya, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan transportasi publik menjadi pekerjaan rumah yang dinilai tidak cukup hanya dibicarakan dalam momentum hari jadi.
Bagi warga, ukuran kemajuan Jawa Barat bukan semata-mata kemeriahan perayaan HUT, melainkan sejauh mana kebijakan pemerintah mampu menjawab kebutuhan masyarakat, memperluas akses pelayanan publik, menjaga identitas budaya, dan meningkatkan kualitas hidup warga. (SUPYAN AL ANSORY)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






