ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Warga RT 05 RW 08 Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung, mengaku kecewa dengan layanan Perumda Tirtawening Kota Bandung.
Pasalnya, aliran air bersih di wilayah mereka tidak mengalir selama berbulan-bulan bahkan lebih dari satu tahun, namun tagihan abonemen tetap harus dibayarkan setiap bulan.
Salah seorang warga, Jumaiyah, mengatakan air PDAM di rumahnya sudah tidak mengalir selama sekitar satu tahun. Meski demikian, ia tetap membayar biaya abonemen karena masih tercatat sebagai pelanggan.
”Kira-kira sudah setahun. Bayarnya tetap setiap bulan, walaupun airnya enggak mengalir,” kata Jumaiyah saat ditemui di lokasi. Selasa (28/7/2026)
Menurutnya, petugas Perumda Tirtawening sempat datang untuk melakukan pengecekan. Namun, penjelasan yang diterimanya hanya menyebut debit air sedang berkurang sehingga distribusi ke wilayahnya belum maksimal.
Jumaiyah mengaku sempat dijanjikan air akan mengalir setiap dua hari sekali. Namun, hingga kini janji tersebut tak pernah terealisasi.
”Katanya dua hari sekali mengalir, tapi sampai sekarang enggak ngocor juga. Padahal di depan ada sebagian rumah yang sudah mengalir,” ujarnya.
Akibat kondisi tersebut, Jumaiyah harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air setiap hari demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.
”Setiap hari beli air satu roda. Bayar air PDAM juga, tapi enggak dapat air. Ya percuma bayar,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Heni, warga lainnya di RW 08. Ia mengaku sudah lebih dari enam bulan tidak mendapatkan aliran air PDAM. Meski demikian, ia tetap membayar abonemen setiap bulan karena khawatir sambungan airnya diputus.
“Abonemen tetap dibayar. Mau gimana lagi, takutnya distop,” kata Heni.
Heni mengungkapkan, selama layanan air tidak berjalan normal, ia terpaksa membeli air minum isi ulang dan sesekali membeli air bersih seharga sekitar Rp50.000 ribu per tangki kecil. Dalam kondisi mendesak, ia bahkan memanfaatkan air dari masjid untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kalau untuk air minum saya beli isi ulang. Kadang-kadang beli satu roda, satu roda itu Rp50.000. Kalau mendesak, kami ambil air dari masjid,” tuturnya.
Menurut Heni, warga telah berulang kali menyampaikan keluhan, baik melalui pengurus RT/RW maupun langsung ke kantor Perumda Tirtawening di Jalan Badak Singa dan Jalan Arjuna. Namun hingga kini belum ada penyelesaian.
“Sudah beberapa kali lapor, tapi belum ada realisasinya. Petugas cuma datang, foto meteran air, habis itu enggak ada penjelasan apa-apa,” katanya.
Heni berharap Perumda Tirtawening bersama Pemerintah Kota Bandung segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut. Mereka meminta distribusi air kembali normal atau setidaknya jadwal penggiliran air dijalankan sesuai dengan yang dijanjikan.
“Harapannya air ledeng bisa lancar lagi. Kalau memang harus diatur debitnya, minimal dua hari sekali benar-benar mengalir,” pungkasnya
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






