KORANMANDALA.COM –Viralnya unggahan di media sosial terkait dugaan ketidaktransparanan dalam penentuan atlet menuju Porprov 2026 berbuntut panjang. Orang tua atlet atletik berinisial MR (20), yakni WR (45), angkat bicara dan mengaku memiliki alasan kuat hingga akhirnya membawa persoalan tersebut ke ruang publik.
WR mengatakan, salah satu hal yang memicu kekecewaannya adalah dugaan tidak terbukanya informasi mengenai pendaftaran atlet ke Kejuaraan Nasional (Kejurnas).
Menurutnya, saat dirinya menanyakan formulir pendaftaran Kejurnas kepada DV, yang disebutnya sebagai pengurus PASI sekaligus pelatih klub atletik di bawah naungan PASI Kabupaten Garut, ia justru mendapat jawaban bahwa pihak tersebut tidak mengetahui adanya proses pendaftaran.
ADVERTISEMENT
“Yang membuat saya akhirnya memviralkan persoalan ini adalah masalah Kejurnas. Saat saya menanyakan formulir pendaftaran kepada DV, saya mendapat jawaban tidak tahu-menahu, padahal saya sudah memperoleh informasi dari rekan di luar Kabupaten Garut,” ujar WR, Minggu (5/7/2026).
Namun, beberapa hari kemudian WR mengaku melihat unggahan di media sosial milik rekannya yang mencantumkan daftar atlet dan pelatih yang akan diberangkatkan ke Kejurnas, termasuk kontingen dari Kabupaten Garut.
Dalam unggahan tersebut, kata WR, terdapat tiga nama pelatih serta empat atlet yang akan mewakili Garut.
“Saya melihat ada nama-nama atlet dan pelatih dari Garut yang akan berangkat ke Kejurnas. Dari situ saya merasa ada informasi yang tidak disampaikan secara terbuka kepada kami,” katanya.
WR menduga anaknya kehilangan kesempatan mengikuti Kejurnas meski dinilainya telah memenuhi syarat. Ia mengaku sempat meminta penjelasan langsung kepada DV usai pelaksanaan Kejurnas.
“Saya sempat bertemu dan mempertanyakan langsung kepada DV. Saat itu dia mengatakan tidak mengetahui proses pendaftaran dan menyebut yang mendaftarkan adalah KONI,” ucap WR.
Meski demikian, WR mempertanyakan alasan tersebut. Menurutnya, mekanisme pengiriman atlet ke Kejurnas semestinya diawali dari pengajuan organisasi cabang olahraga di tingkat kabupaten sebelum diteruskan kepada KONI.
“Menurut saya, KONI tidak mungkin memberangkatkan atlet tanpa ada usulan dari PASI. Informasi Kejurnas juga seharusnya berasal dari PASI pusat kepada PASI kabupaten,” tuturnya.
WR mengklaim dugaan penjegalan terhadap anaknya bukan kali pertama terjadi. Ia mengaku sebelumnya juga pernah memberangkatkan MR secara mandiri untuk mengikuti sebuah invitasi atletik di Jakarta karena tidak mendapatkan dukungan.
“Ini bukan baru sekali. Sebelumnya juga pernah terjadi, bahkan untuk mengikuti invitasi di Jakarta saya harus memberangkatkan anak saya sendiri,” katanya.
Selain itu, WR juga mempertanyakan dasar penetapan empat atlet yang diberangkatkan ke Kejurnas. Ia mengklaim tiga di antaranya tidak lolos babak kualifikasi sesuai hasil yang diketahuinya.
“Yang saya pertanyakan, mengapa atlet yang menurut saya tidak lolos babak kualifikasi justru diberangkatkan, sementara ada atlet yang lolos malah dicoret. Kalau memang terkendala efisiensi anggaran, seharusnya yang diprioritaskan adalah atlet yang memenuhi kualifikasi,” ujarnya.
WR berharap persoalan tersebut menjadi perhatian seluruh pihak terkait. Ia meminta sistem seleksi atlet di PASI Kabupaten Garut dibenahi agar lebih transparan, objektif, dan tidak menimbulkan polemik serupa di kemudian hari.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PASI Kabupaten Garut maupun KONI Kabupaten Garut belum memberikan keterangan resmi terkait tudingan yang disampaikan WR. Redaksi masih berupaya meminta konfirmasi kepada kedua pihak untuk memperoleh informasi yang berimbang.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






