ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Raden Vini Adiani Dewi, menilai upaya pencegahan terhadap Orientasi dan Perilaku Seksual Menyimpang (OPSM) harus dilakukan sejak dini, bahkan sebelum seseorang menikah dan memiliki anak. Menurutnya, jika persoalan tersebut sudah sampai ditangani Dinas Kesehatan, maka upaya pencegahan sebenarnya sudah terlambat.
“Kalau Dinas Kesehatan itu adalah pemadam kebakarannya. Jadi kalau berbicara kepada Dinas Kesehatan itu sudah terlambat sebetulnya. Walaupun ini bukan gangguan jiwa, tapi ini adalah masalah kesehatan jiwa yang tentu sangat dipengaruhi oleh bagaimana manusia itu tumbuh,” ujar Vini Minggu (28/6/2026)
Ia menjelaskan, pembentukan karakter seseorang dimulai sejak masa kehamilan. Karena itu, kesehatan ibu hamil, pemenuhan gizi, pemberian ASI eksklusif, hingga pola pengasuhan anak menjadi faktor penting yang memengaruhi perkembangan seseorang.
ADVERTISEMENT
“Sejak mau nikah, mau punya anak, harus tahu kalau punya anak itu makan harus baik. Pada masa balita diberikan ASI eksklusif supaya ada bonding. Setelah itu masa PAUD diajarkan sosialisasi, bukan baca tulis. SMP mulai masa reproduksi, mana yang sehat mana yang tidak. Jadi kalau ditanya sejak kapan mencegahnya? Sejak dini, sejak mau nikah,” katanya.
Menurut Vini, dampak OPSM sangat besar karena dapat memengaruhi hampir seluruh siklus kehidupan masyarakat.
“Kalau ditanya berapa besar masalah ini, besar sekali. Ketika makin hari kita makin terdampak oleh digitalisasi. Mari kita bangun peradaban dimulai dari kita sendiri. Karena kalau sudah sampai Dinas Kesehatan itu sudah terlambat,” ujarnya.
Ia juga menyinggung pentingnya membangun karakter masyarakat sebagaimana konsep Panca Waluya yang diusung Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Karakter itu sudah terbentuk dari awal, bahkan sejak dalam kandungan. Makanya mari kita bangun peradaban. Kalau hanya membangun gedung-gedung tinggi tanpa membangun manusianya, akhirnya tidak akan menyelesaikan persoalan,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Vini mengungkapkan adanya peningkatan kasus HIV berdasarkan hasil skrining yang dilakukan Dinas Kesehatan Jawa Barat.
“Kita setiap tahun mengadakan skrining kepada ibu hamil dan kelompok rentan. Kurang lebih ada sekitar 240 ribu yang kita skrining. Hasilnya sekitar 4.000 kasus pada tahun 2024, dan hampir sekitar 2.000 berasal dari LSL,” katanya.
Ia menambahkan, terdapat sekitar 700 ibu hamil yang juga dinyatakan positif HIV berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut.
“Hari ini rata-rata sudah sekitar 5.000 kasus per tahun. Padahal tahun-tahun sebelumnya sekitar 1.000. Jadi memang meningkat,” ujarnya.
Vini menyatakan regulasi yang tengah dibahas DPRD Jawa Barat terkait OPSM merupakan langkah yang dinilai penting untuk memperkuat upaya pencegahan.
” karena siapa lagi yang bergerak. DPRD sebagai perwakilan rakyat memperlihatkan bahwa memang rakyat harus dibela. Masalah ini dari rakyat juga, jadi semuanya harus kompak,” katanya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






