KORANMANDALA.COM –Di tengah menjamurnya usaha kuliner di Kota Bandung, Kedai Imah Seuri hadir dengan konsep berbeda. Tak hanya menawarkan beragam menu makanan, kedai yang berlokasi di Jalan Terusan Sutami ini juga menjadi bagian dari upaya pemberdayaan anak-anak yatim dan duafa.
Kedai Imah Seuri merupakan program yang dikembangkan oleh Imah Seuri, rumah pembinaan yang didirikan Kang Zaehanan pada 2010. Lembaga tersebut berfokus pada pendampingan anak-anak yatim dan duafa melalui berbagai kegiatan pembinaan karakter, pendidikan, dan pengembangan keterampilan.
Menurut Kang Zaehanan, gagasan mendirikan Imah Seuri berawal dari keinginannya menyediakan ruang yang aman bagi anak-anak yang kerap menghadapi berbagai persoalan sosial, seperti rendahnya rasa percaya diri hingga perundungan.
DPRD Kota Bandung Minta Jam Malam Diperkuat, Uji Efektivitas Perda Ketertiban Umum Cegah Begal
“Anak-anak ini membutuhkan tempat untuk tumbuh dan mengembangkan potensi yang mereka miliki. Kami berupaya mendampingi mereka agar lebih percaya diri dan produktif,” ujarnya.
Untuk mendukung keberlangsungan program pembinaan, Imah Seuri kemudian membuka Kedai Imah Seuri pada 2023. Pada awalnya, operasional kedai melibatkan para ibu dari anak-anak binaan. Seiring waktu, kedai tersebut berkembang menjadi ruang sosial yang terbuka bagi masyarakat.
Selain menjadi tempat menikmati hidangan dengan harga terjangkau, kedai ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya kepedulian sosial. Pengunjung dapat melihat secara langsung berbagai aktivitas pembinaan yang dilakukan oleh Imah Seuri.
Saat ini, sekitar 15 hingga 20 anak binaan aktif mengikuti berbagai kegiatan yang digelar, terutama pada akhir pekan. Mereka mendapatkan pembinaan melalui aktivitas edukatif, kreatif, serta penguatan karakter dan mental.
Kang Zaehanan menegaskan, anak-anak binaan tidak dipekerjakan di kedai. Keterlibatan mereka dalam sejumlah aktivitas dilakukan secara sukarela sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pengembangan kepercayaan diri.
“Tidak ada paksaan. Mereka ikut terlibat karena merasa senang. Ada yang ingin menyapa pengunjung, mengantarkan pesanan, atau membantu kegiatan lainnya di kedai,” katanya.
Sebagian keuntungan dari operasional kedai dialokasikan untuk mendukung program pembinaan, termasuk kebutuhan pendidikan dan pengembangan kapasitas anak-anak binaan. Skema tersebut dilakukan sebagai upaya menciptakan sumber pendanaan yang lebih berkelanjutan di tengah keterbatasan dukungan donasi.
Suasana kedai yang mengusung konsep hangat dan kekeluargaan juga diperkuat dengan berbagai hasil karya anak-anak binaan yang dipajang di sejumlah sudut ruangan. Mulai dari kerajinan tangan, dekorasi, hingga tanaman hias menjadi bagian dari identitas Kedai Imah Seuri. Sejumlah karya tersebut bahkan dapat dibeli oleh pengunjung sebagai bentuk dukungan terhadap kreativitas anak-anak.
Dari sisi kuliner, Kedai Imah Seuri menawarkan berbagai menu, di antaranya Nasi Goreng Kecombrang, Nasi Goreng Teri, Roti Panas Dingin, dan Pempek Tower. Seluruh menu dibanderol mulai dari Rp10.000.
Kedai Imah Seuri beroperasi setiap hari pukul 06.00 hingga 22.00 WIB. Pengunjung yang memberikan ulasan melalui Google juga akan mendapatkan gantungan kunci sebagai bentuk apresiasi.
Melalui konsep yang menggabungkan usaha kuliner dan kegiatan sosial, Kedai Imah Seuri berupaya menciptakan kemandirian ekonomi sekaligus membuka ruang tumbuh bagi anak-anak yatim dan duafa di Kota Bandung.
