KORANMANDALA.COM – Sejumlah calon murid yang mendaftar melalui jalur kepemimpinan pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Sekolah Maung, mengeluhkan adanya pengurangan skor yang terjadi selama proses seleksi.
Para siswa mempertanyakan transparansi sistem penilaian setelah skor yang sebelumnya telah muncul di sistem mengalami perubahan tanpa penjelasan yang jelas. Akibat penurunan nilai tersebut, sebagian peserta mengaku gagal diterima di Sekolah Maung.
Ketua OSIS SMPN 11 Bandung, Eryna Kaleela Danish, menilai pelaksanaan jalur kepemimpinan dalam SPMB Sekolah Maung masih belum berjalan secara adil dan transparan.
“Keluhannya mungkin dari jalur kepemimpinan ini saya rasa masih belum ada keadilan karena di sini kami sebagai ketua OSIS banyak sekali yang tidak diterima di Sekolah Maung yang sudah disediakan oleh Bapak KDM. Nah tentunya di sini kami memperhatikan bagaimana sistem ini berjalan masih belum setara, masih belum adil, dan juga belum transparan,” ujar Eryna. Selasa (9/6/2026)
Ia berharap aspirasi para peserta dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah agar pelaksanaan seleksi pada tahun berikutnya lebih baik.
“Kami juga berharap dengan adanya aspirasi kami ini dapat memperbaiki sistem nantinya ke depannya dan juga jalur kepemimpinan ini bisa lebih baik lagi. Kemudian harapan saya, kami mendapatkan keadilan karena kami juga butuh keadilan terhadap adanya jalur kepemimpinan ini karena ini mempertaruhkan masa depan kami,” katanya.
Erina mengaku mengalami pengurangan skor sebesar 51 poin saat mendaftar ke SMA Maung.
“Di SMA Maung ini saya mengalami pengurangan skor 51 poin, hanya sekali. Namun untuk masuk ke SMA reguler saya belum bisa masuk karena sistemnya yang katanya masih error. Jadi sampai sekarang saya belum bisa masuk,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Zinedine Yazid, Ketua Osis SMP Negeri 13 Bandung. Ia mengaku skor yang diperolehnya saat mendaftar ke SMA Maung semula mencapai 360 poin, namun kemudian turun menjadi 314 poin.
“Kebetulan saya juga mendaftar di Sekolah Maung yang diprogramkan oleh Gubernur kita, Kang Dedi Mulyadi. Pada waktu saat itu saya daftar ke Maung dengan total perolehan skor 360. Tetapi pada saat tanggal 4 saya melihat skor saya ternyata menurun menjadi 314,” kata Zinedine.
Menurutnya, perubahan skor juga terjadi pada pendaftaran sekolah reguler. Saat mendaftar ke SMA Negeri 8 Bandung melalui jalur kepemimpinan, skor awalnya tercatat 336 poin, namun kemudian berkurang menjadi 322 poin.
“Saya di reguler mendaftar SMA Negeri 8 Bandung dengan jalur kepemimpinan, total skor awal 336. Tetapi setelah saya lihat, perubahan skor menjadi 322,” ujarnya.
Zinedine menilai sistem SPMB 2026 masih memiliki banyak persoalan yang perlu dievaluasi, terutama terkait perubahan data yang terjadi setelah proses verifikasi.
“Menurut saya memang di sistem SPMB sekarang 2026 ini masih banyak terdapat sekali celah yang harus dievaluasi. Kenapa bisa saat satu sistem sudah memverifikasi suatu data, tetapi data itu masih bisa diubah. Di tengah proses validasi, skor bisa berubah secara mendadak dan tidak ada pemberitahuan langsung kepada kami,” katanya.
Keluhan para peserta ini menambah sorotan terhadap pelaksanaan SPMB 2026, khususnya pada jalur kepemimpinan yang menjadi salah satu jalur seleksi unggulan di Sekolah Maung
“Sekarang saya sudah ditolak di SMA Maung akibat penurunan skor juga,” Pungkasnya
Para siswa berharap pemerintah dan Dinas Pendidikan dapat memberikan penjelasan serta melakukan evaluasi agar proses penerimaan murid berjalan lebih transparan dan memberikan kepastian bagi peserta.
