ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Pemerintah Kabupaten Garut tengah mempersiapkan pelaksanaan Festival Layang-Layang Internasional 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026 di wilayah pegunungan Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut.
Ajang berskala internasional tersebut akan menghadirkan peserta dari berbagai negara, sekaligus menjadi momentum promosi wisata dan penggerak ekonomi masyarakat lokal.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Beni Yoga, mengatakan pihaknya telah beberapa kali menggelar rapat koordinasi bersama panitia pusat guna mematangkan berbagai persiapan.
ADVERTISEMENT
Polres Garut Siagakan 571 Personel Gabungan Amankan Nobar Persib vs Persijap di SOR Adiwijaya
Menurutnya, pembahasan yang dilakukan mencakup kesiapan infrastruktur hingga pencarian sponsor, mengingat festival tersebut tidak menggunakan anggaran dari APBD Kabupaten Garut.
“Kami sudah beberapa kali melakukan rapat dengan panitia dari pusat. Saat ini mulai mempersiapkan dukungan infrastruktur, sekaligus mencari dukungan sponsorship karena kegiatan ini non-APBD. Jadi kami berupaya mengolaborasikan seluruh pelaku yang ada di Kabupaten Garut,” kata Beni.
Beni menjelaskan, kepanitiaan utama festival berada di bawah naungan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), sementara Dinas Pariwisata berperan memberikan dukungan dari sisi regulasi dan fasilitas penunjang.
“Kepanitiaan inti berada di PHRI sebagai ketua pelaksana. Kami mendukung dari sisi sistem, regulasi, perizinan, hingga fasilitas umum seperti amenitas, toilet, dan kebutuhan lainnya,” ujarnya.
Digelar di Pegunungan, Jadi Daya Tarik Baru
Berbeda dari festival serupa yang umumnya berlangsung di kawasan pantai, Festival Layang-Layang Internasional di Garut kali ini akan digelar di kawasan pegunungan sekitar Papandayan, Kecamatan Cisurupan.
Konsep tersebut dinilai menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta internasional yang terbiasa menerbangkan layang-layang di wilayah pesisir.
“Biasanya festival layang-layang internasional digelar di pinggir pantai. Sekarang dicoba di pegunungan, sehingga menjadi alternatif baru. Seri festival ini sebelumnya ada di Bali dan kini di Garut,” ucap Beni.
Ia mengungkapkan, sebelumnya lokasi penyelenggaraan sempat direncanakan di Thailand, tepatnya Phuket. Namun, panorama pegunungan Garut dinilai memiliki daya tarik tersendiri sehingga dipilih menjadi lokasi festival.
“Kami menawarkan konsep pegunungan Papandayan dan ternyata itu menarik perhatian mereka. Ini menjadi salah satu keunikan festival di Garut,” tambahnya.
Diharapkan Gerakkan UMKM dan Ekonomi Warga
Tak hanya menjadi agenda pariwisata, Pemkab Garut berharap festival tersebut mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar, termasuk menggerakkan koperasi, BUMDes, hingga pelaku UMKM.
Pemerintah daerah saat ini juga mulai melakukan persiapan lapangan bersama perangkat daerah terkait guna memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini bukan hanya soal pariwisata, tetapi juga dapat menggerakkan koperasi Merah Putih, BUMDes, serta UMKM di wilayah sekitar sehingga memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Garut,” katanya.
Infrastruktur dan Pelebaran Jalan Jadi Perhatian
Untuk menunjang akses menuju lokasi festival, pemerintah bersama pemerintah desa setempat melakukan penataan infrastruktur, termasuk pelebaran jalan melalui pola kolaborasi dan gotong royong masyarakat.
Keterbatasan anggaran membuat pelaksanaan pelebaran jalan dilakukan dengan dukungan pemerintah desa dan partisipasi warga.
“Pelebaran jalan menjadi salah satu penunjang kegiatan. Karena anggaran terbatas, pelaksanaannya dilakukan melalui kolaborasi pemerintah desa dan swadaya masyarakat,” tegas Beni.
Diikuti 16 Negara
Hingga saat ini, sebanyak 16 negara, termasuk Indonesia, telah terdaftar untuk mengikuti Festival Layang-Layang Internasional di Garut.
Sementara dari Indonesia, sejumlah daerah dipastikan akan mengirimkan perwakilan, di antaranya Bali, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Lampung, Sulawesi, dan Jawa Barat.
Selain menampilkan layang-layang hias, festival juga akan menghadirkan kompetisi layang-layang tradisional dan layang adu yang digelar selama lima hari pelaksanaan.
“Tidak hanya layang-layang hias, nanti juga ada kategori layang tradisional dan layang adu. Kami bekerja sama dengan komunitas Pelangi Jawa Barat dan Pelangi Garut,” pungkas Beni.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






