KORANMANDALA.COM – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkap sejumlah alasan menggelar rangkaian Milangkala Tatar Sunda dengan puncak acara drama musikal kolosal Pajajaran Gugat pada Ahad (17/5/2026) malam di area kawasan Gedung Sate.
Dedi menegaskan kegiatan itu dilakukan untuk menyerap hal-hal baik di masa lalu untuk kehidupan masa depan.
“Keberpihakan pada nilai kesundaan bukan soal pagelaran kesenian itu hanya simbol saja tetapi yang paling utama adalah dari seluruh rangkaian disajikan kembali menghadirkan seluruh energi masa lalu untuk masa depan,” ucap Dedi dalam sambutannya, Minggu (17/5/2026) malam.
Namun, hal tersebut mendapat kontra dari sejumlah ulama agak gerah dengan ritual adat yang mulai terang-terangan dilakukan selama rangkaian Kirab Budaya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, Iendra Sofyan menanggapi hal tersebut sebagai perbedaan pendapat dan persepsi tentunya sesuatu yang wajar.
“Terutama disaat kita sedang menggali kembali sesuatu yang sudah dan akan hilang. Diperlukan berbagai referensi yang valid melalui dokumen-dokumen yang tersebar. Selain itu cara pembacaan referensi akan berbeda-beda tergantung dari sudut pandang,” ujar Iendra disela acara kepada Koranmandala.
“Hal ini sangat diapresiasi sebagai perhatian dari berbagai pihak. Tugas selanjutnya bagaimana kita menyatukan semuanya menjadi sebuah gambar Tatar Sunda yang utuh,” pungkasnya.
