ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Publik Bandung dihebohkan dengan aksi begal yang menimpa seorang kurir paket di Jl. Maksudi, Kel. Panjunan, Kec. Astanaanyar, Kota Bandung, pada Minggu (3/5/2026) siang. Peristiwa yang terjadi di tengah hujan deras dan terekam kamera pengawas itu memperlihatkan bahwa ancaman kejahatan jalanan masih membayangi aktivitas sehari-hari, bahkan pada waktu yang kerap dianggap relatif aman.
Polsek Astanaanyar menyatakan telah mengamankan dua pelaku dalam kurun waktu kurang dari 24 jam setelah kejadian, sementara dua pelaku lainnya masih dalam pengejaran. Dalam peristiwa tersebut, korban yang tengah berteduh menjadi sasaran empat pelaku yang datang menggunakan dua sepeda motor. Dengan modus berpura-pura meminta bantuan, pelaku kemudian mengancam korban menggunakan senjata tajam dan membawa kabur sepeda motor serta 12 paket kiriman.
Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga terkait maraknya aksi begal atau pencurian dengan kekerasan (curas) di Kota Bandung.
ADVERTISEMENT
Kecamatan dengan Kejadian Kebakaran Terbanyak di Kota Bandung
Berdasarkan data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri, jumlah kasus begal atau curas di wilayah hukum Polrestabes Bandung tercatat sebanyak 124 kasus pada 2023, kemudian menurun menjadi 78 kasus pada 2024, dan kembali turun menjadi 67 kasus pada 2025. Meski menunjukkan tren penurunan, angka tersebut dinilai masih cukup tinggi dan tetap menjadi ancaman bagi masyarakat.
Data yang sama menunjukkan bahwa sebagian besar kejadian terjadi di jalan umum dan didominasi pada malam hari, yakni pukul 18.00 hingga 00.00. Namun, kasus di Astanaanyar yang terjadi pada siang hari menunjukkan bahwa potensi kejahatan tidak terbatas pada waktu tertentu.
Bilal (28), seorang kurir paket yang ditemui di kawasan Cipadung, Cibiru, mengaku merasa khawatir dengan kondisi tersebut. Ia menilai pekerjaannya sebagai kurir kini dihadapkan pada risiko keamanan yang tidak kecil.
“Jujur kalau saya ngeri ya, kita niatnya kan nyari nafkah tapi harus dibayang-bayangi kondisi gak aman seperti itu, kita juga jadi gak tenang,” ujarnya saat ditemui, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, rasa tidak aman tersebut berdampak langsung pada kenyamanan bekerja. Ia mengaku harus lebih waspada dalam memilih tempat berhenti atau sekadar berteduh, karena segala situasi bisa berubah menjadi berisiko.
Ia juga mempertanyakan aspek perlindungan bagi pekerja lapangan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Belum nanti risiko kalau keselamatan kita terancam atau barang hilang, apakah perusahaan mau tanggung jawab?” katanya.
Ia berharap ada langkah konkret dari pemerintah dan aparat untuk memperkuat keamanan, terutama di titik-titik yang rawan. Baginya, jaminan rasa aman menjadi hal penting agar pekerja sektor informal seperti kurir dapat menjalankan pekerjaannya tanpa tekanan berlebih.
“Harapannya ya semoga ga ada kejadian kayak gitu lagi, pemerintah dan aparat harusnya bisa mengantisipasi,” tambahnya.
Keresahan serupa disampaikan Frans (42), seorang pengendara yang ditemui di kawasan Kiaracondong. Ia menilai aksi begal yang terjadi di berbagai waktu membuat masyarakat sulit merasa aman saat beraktivitas di jalan.
“Jelas bikin was-was, begal sekarang beraksi ga kenal waktu, mau malam atau siang tetap aja rawan buat kita,” ujarnya.
Kejadian di Astanaanyar, kata dia, memperkuat indikasi bahwa pemerintah belum bisa menjamin keamanan warga. Ia menilai situasi ini memunculkan kekhawatiran kolektif di tengah masyarakat, terutama bagi mereka yang setiap hari bergantung pada mobilitas di jalan.
“Ini juga jadi salah satu bukti pemerintah belum bisa menjamin keamanan, keselamatan, dan kenyamanan warganya,” kata Frans.
Ia mendorong adanya peningkatan intensitas patroli serta langkah penegakan hukum yang lebih tegas terhadap pelaku kejahatan jalanan. Menurutnya, kehadiran aparat di lapangan menjadi faktor penting untuk menekan potensi kejahatan sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat.
“Pemerintah dan aparat kepolisian harus meningkatkan patroli, tumpas semua begal, jangan sampai ini kejadian lagi,” tutupnya.
Keresahan warga ini menjadi pengingat bahwa isu keamanan jalanan masih menjadi pekerjaan rumah di Kota Bandung. Respons cepat aparat dalam menangkap pelaku dinilai penting, namun upaya pencegahan dan perlindungan terhadap masyarakat tetap menjadi tuntutan utama di tengah kekhawatiran yang terus muncul.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






