KORANMANDALA.COM – Pengamat komunikasi publik dari Universitas Pasundan (Unpas), Deden Ramdan, menilai kemunculan kritik dari kelompok suporter Persib Bandung, Bobotoh, terhadap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) berakar pada persoalan komunikasi yang tidak tepat momentum, di tengah kondisi suporter yang sedang sensitif.
Sebelumnya, kritik Bobotoh terhadap KDM mengemuka lewat pembentangan spanduk bertuliskan ‘SHUT UP KDM’ di tribun utara Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) kala Persib menjamu Arema FC, Jumat (24/4/2026). Hal ini pun memicu perbincangan luas di media sosial.
Deden mengatakan, kemunculan kritik itu tidak bisa dilepaskan dari pernyataan KDM sebelumnya, yang mengungkap adanya pemberian dana bantuan dari Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait kepada Persib beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
“Ini sebenarnya kalau menurut saya terkait dengan komentar KDM yang menyampaikan bahwa Persib harus menunjukkan kinerja yang lebih maksimal menuju partai-partai final, menjanjikan dengan Maruarar Sirait bahwa akan memberi stimulus Rp1 miliar untuk laga-laga terakhir, jadi terpantik dari situ,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (28/4/2026).
Menurut Deden, pernyataan tersebut disampaikan di tengah situasi psikologis Bobotoh yang sedang sensitif melihat perjalanan Persib menuju tangga juara musim ini, ditambah hasil yang kurang memuaskan dalam beberapa laga terakhir.
“Kalau saya melihatnya sekarang ini situasinya sedang tidak baik-baik saja, tampaknya KDM tidak begitu memahami kondisi psikologis dari Bobotoh,” tuturnya.
Di samping itu, ia berpendapat, pernyataan KDM juga dianggap mencederai persepsi yang telah melekat begitu lama di kalangan Bobotoh. Hal ini terkait citra Persib sebagai klub independen yang terlepas dari anggaran pemerintah serta bebas dari kepentingan politik.
“Dengan pernyataan KDM itu sendiri kan seolah menodai kondisi yang terjadi,” beber Deden.
Ia menambahkan, jika ditinjau dari kerangka social framework, Bobotoh mengasumsikan pernyataan KDM sebagai upaya untuk mendulang simpati, juga sebagai bagian dari motif politik.
Pembentangan banner ‘SHUT UP KDM’ secara terbuka oleh Bobotoh di tribun stadion, menurutnya, dapat dilihat sebagai bentuk respons penolakan yang didramatisasi agar pesan tersampaikan luas.
Bukan hanya kepada KDM, Deden memandang pesan ini juga menjadi bentuk penegasan Bobotoh kepada semua pihak terutama yang berlatar belakang politisi, agar menjauhkan kepentingan pribadinya dari klub kebanggaan Jawa Barat tersebut.
“Bobotoh seolah-olah ingin memberi ‘pelajaran’ kepada siapapun dengan latar belakang politisi. Dalam hal ini kebetulan KDM yang membuat statement seperti itu,” katanya.
Di balik keberanian Bobotoh melancarkan kritik itu, Deden melihat fenomena ini terbentuk dari 3 unsur dalam framing sosial, yakni adanya aktor, korban, dan perlawanan. Dalam hal ini, kata dia, KDM diposisikan sebagai aktor, sementara marwah Persib dianggap sebagai ‘korban’, dan Bobotoh mengekspresikan perlawanan melalui simbol di tribun.
“Ada aktor yang jelas KDM, ada ‘korban’ yakni kehormatan Persib yang dianggap dirusak karena dipolitisasi, serta ada perlawanan dari Bobotoh lewat pembentangan spanduk di stadion,” jelasnya.
Meski demikian, Deden menilai situasi ini juga membuka kemungkinan adanya salah tafsir antara kedua pihak. Ia menyebut niat KDM bisa saja tulus, namun ditangkap berbeda oleh Bobotoh.
“Ini kan multitafsir, bisa jadi miskomunikasi antara KDM sebagai aktor dan Bobotoh yang melakukan perlawanan,”
Menurutnya, inti persoalan terletak pada ketidaktepatan komunikasi dan momentum penyampaian pesan.
“Bobotoh marah karena komunikasi yang tidak pas, tidak tepat, moment of truth-nya tidak terbangun dengan baik,” kata Deden.
*KDM Respons Santai*
Aksi kritik Bobotoh lewat pembentangan spanduk ‘SHUT UP KDM’ di stadion GBLA pada Jumat (24/4/2026), sudah mendapat tanggapan dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM).
Ia mengapresiasi kritik tersebut sebagai pengingat bagi dirinya untuk tidak berbicara berlebihan mengenai Persib. Ia juga memahami kritik ini merupakan bentuk kepedulian Bobotoh demi menjaga profesionalitas Persib sebagai klub sepak bola independen, tanpa ada campur tangan politik.
“Untuk teman-teman Bobotoh di tribun utara GBLA saat pertandingan lawan Arema, saya mengucapkan terima kasih atas spanduk yang dibentangkan. Terima kasih sudah diingatkan,” katanya dalam unggahan di akun Instagram @dedimulyadi71, Minggu (26/4/2026).
Selain itu, dalam unggahannya KDM juga mengklarifikasi soal kontroversi bantuan dana Rp1 miliar dari Maruarar Sirait yang ia singgung beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan, komitmen tersebut muncul dalam pertemuan antara dirinya, Maruarar, dan manajemen Persib yang membahas target gelar juara musim ini.
Meski awalnya diminta untuk tidak mempublikasikan, KDM menyebut membuka informasi tersebut sebagai bentuk transparansi.
“Saya sebagai orang yang selalu menjunjung tinggi transparansi, setiap pengelolaan keuangan harus disampaikan kepada publik,” bebernya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






