ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Deretan kios di Pasar Cimol Gedebage kini tak lagi seramai dulu. Lorong-lorong yang pernah dipadati pemburu pakaian bekas impor berubah lengang. Di balik kondisi itu, tersimpan kegelisahan para pedagang kecil yang berjuang bertahan di tengah kebijakan larangan impor pakaian bekas yang kian diperketat.
Andika (29), pedagang jaket bekas, menjadi salah satu yang merasakan langsung dampaknya. Ia mengaku, perubahan mulai terasa sejak kebijakan tersebut diperketat pada era Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Pasokan barang yang selama ini menjadi “nyawa” pasar perlahan terhenti.
“Sejak itu sampai sekarang menderita. Apalagi sekarang zona merah, bal-balannya nggak bisa masuk,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Senin (27/4/2026).
ADVERTISEMENT
Bagi Andika, berdagang pakaian bekas impor bukan sekadar usaha, melainkan sumber penghidupan utama. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit: omzet turun lebih dari 50 persen, sementara biaya operasional tetap berjalan.
Hari-hari di pasar terasa panjang. Transaksi yang dulu datang silih berganti kini sulit didapat. Bahkan akhir pekan yang biasanya menjadi andalan, tak lagi memberikan perbedaan berarti.
“Sabtu-Minggu sekarang sama saja, sepi,” katanya singkat.
Dampak kebijakan itu, menurut Andika, tidak hanya dirasakan dirinya. Hampir seluruh area pasar mengalami hal serupa. Ia memperkirakan jumlah kios aktif menyusut drastis, dari sekitar 1.000 menjadi hanya sekitar 300 kios yang masih bertahan.
Banyak pedagang memilih menutup usahanya karena tak lagi mampu membayar sewa kios.
“Sepi semua, bukan di satu tempat saja. Banyak yang akhirnya tutup,” ungkapnya.
Di tengah situasi sulit, imbauan untuk beralih ke produk lokal bukan tanpa tantangan. Andika menilai, perubahan itu tidak bisa dilakukan secara instan. Selain soal harga, preferensi pasar juga sudah terbentuk sejak lama.
“Bukan kita jelek-jelekin produk lokal, tapi kualitas sama harga itu jadi pertimbangan. Yang bagus mahal, yang murah kualitasnya belum tentu sama,” ujarnya.
Menurutnya, pakaian bekas impor selama ini memiliki ceruk pasar yang jelas—terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah, namun tetap menawarkan kualitas yang layak. Hal itu yang membuat thrifting menjadi pilihan banyak orang.
“Market-nya sudah ada. Banyak masyarakat terbantu karena bisa beli yang murah tapi masih bagus,” tambahnya.
Lebih jauh, Andika menyoroti dampak berantai dari kebijakan tersebut. Ekosistem ekonomi di Pasar Cimol Gedebage tidak hanya soal pedagang. Ada kuli panggul, jasa cuci, setrika, hingga penjahit yang ikut bergantung pada perputaran barang di pasar ini.
Kini, ketika aktivitas menurun, semua ikut terdampak.
“Bukan cuma pedagang, banyak yang kena imbas. Semua yang ada di sini saling bergantung,” katanya.
Di tengah ketidakpastian, Andika berharap ada solusi konkret dari pemerintah. Ia menilai kebijakan yang ada belum memberikan ruang adaptasi bagi pelaku usaha kecil yang selama ini menggantungkan hidup di sektor tersebut.
“Harus ada jalan tengah. Jangan sampai mematikan yang lain,” tegasnya.
Dengan kondisi yang belum menunjukkan tanda pemulihan, Andika mengaku belum memiliki rencana ke depan. Ia hanya bisa bertahan sembari berharap keadaan membaik.
“Bingung mau usaha apa lagi. Teman-teman banyak yang sudah tutup. Kita juga takut nggak kuat kalau terus begini,” tuturnya.
Pasar Cimol Gedebage hari ini bukan sekadar potret pasar yang sepi, melainkan cermin dari pergulatan ekonomi rakyat kecil yang terjepit di antara kebijakan dan realitas lapangan. Tanpa solusi yang berpihak, bukan tidak mungkin lebih banyak pelaku usaha yang akan tumbang.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






