ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Di tengah riuhnya percakapan tentang sempitnya lapangan pekerjaan, terutama di Kabupaten Garut, kisah seorang pemuda berinisial AH (22) justru mengalir dengan cara berbeda.
Saat banyak orang berlomba mengejar kursi pekerjaan tetap bahkan status Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang sejak dulu dianggap sebagai simbol kemapanan AH memilih jalan sunyi: berdiri di balik gerobak kecil, menjajakan cilung di halaman sekolah dasar.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Lulusan SMA tahun 2022 ini sempat merasakan bekerja di perusahaan swasta. Namun, ketika harus menghadapi mutasi kerja ke lokasi lain, ia mengambil keputusan yang tak semua orang berani lakukan—mundur, dan memulai usaha sendiri.
ADVERTISEMENT
Rapat Pleno KNPI Garut, Fokus Orientasi Pengurus dan Peluncuran Program KNPI Invace
Bagi AH, hidup bukan soal jabatan tinggi, melainkan tentang bagaimana bisa bertahan dan menghasilkan.
“Yang penting sekarang bukan karier yang menjulang, tapi bagaimana saya bisa punya penghasilan,” ujarnya, sederhana namun tegas.
Setiap hari, sebelum matahari benar-benar meninggi, AH sudah bersiap. Pukul 06.15 WIB, ia sudah berada di salah satu SD Negeri di Garut. Di sanalah ia memulai rutinitasnya—mengolah adonan tepung kanji menjadi cilung, jajanan khas yang akrab di lidah anak-anak. Tak hanya itu, ia juga menjual kue cubit untuk mengisi selera manis para siswa di pagi hari.
Cilung buatannya dijual dengan harga yang sangat terjangkau—Rp1.000 per tusuk. Namun, dari harga yang sederhana itu, tersimpan kerja keras yang tak sederhana. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan 2 hingga 3 kilogram tepung kanji.
“Pagi biasanya anak-anak beli kue cubit, yang manis-manis. Nanti pas jam istirahat, baru cilung yang ramai,” tuturnya.
Hari-hari AH berakhir sekitar pukul 17.00 WIB. Dari pagi hingga sore, ia berdiri, melayani, dan terus menggerakkan usahanya. Dengan modal sekitar Rp150 ribu per hari, ia mampu memutar roda usaha yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, bahkan membantu orang tuanya.
Bagi sebagian orang, menjadi pedagang mungkin dianggap pilihan terakhir. Namun tidak bagi AH. Ia justru menemukan kebanggaan di sana.
“Saya bangga. Dari sini saya bisa memenuhi kebutuhan sendiri dan bantu orang tua,” katanya.
Darah dagang memang sudah mengalir dalam dirinya. Sejak kecil, AH terbiasa membantu orang tuanya berjualan. Pengalaman itu, yang dulu hanya dianggap sebagai aktivitas sampingan, kini menjadi fondasi kuat dalam menjalani hidup mandiri.
Di balik kesederhanaan gerobaknya, tersimpan pesan yang ingin ia sampaikan kepada generasi seusianya: jangan terpaku pada satu jalur.
“Jangan terlalu berharap kerja di perusahaan atau pemerintahan. Coba mandiri. Jangan malu jadi pedagang, yang penting kita punya penghasilan,” pesannya.
Kini, meski hanya berjualan cilung dengan harga seribu rupiah, AH menyimpan mimpi yang lebih besar. Ia ingin mengembangkan usahanya, membuka peluang kerja, dan membantu orang lain agar bisa merasakan hal yang sama—berdiri di atas kaki sendiri.
Di tengah kerasnya realitas dunia kerja, kisah AH menjadi pengingat sederhana: bahwa keberanian untuk memulai seringkali lebih berharga daripada sekadar menunggu kesempatan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






