Daerah

Olah Sampah Berbasis Warga, Sinergi Gaslah dan Rumah Maggot di Kebon Jayanti Mulai Teruji

KORANMANDALA.COM –  Upaya penanganan sampah berbasis masyarakat di Kelurahan Kebon Jayanti, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, mulai menunjukkan hasil. Sinergi antara program Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengelolaan Sampah) dengan operasional rumah maggot di RW 02 dinilai mampu menekan volume sampah organik sekaligus memberi nilai tambah ekonomi.

Pengelola rumah maggot RW 02, Engkos Koswara, menyebut fasilitas tersebut kini menerima pasokan sampah organik dari tujuh RW dengan volume berkisar 2 hingga 3 kuintal per hari.

“Sampah yang masuk kemudian dicacah dan diolah menjadi pakan maggot. Pencacahan biasanya dilakukan dua hari sekali dengan kapasitas sekitar 1,5 kuintal,” ujarnya saat ditemui, Kamis (9/4/2026).

ADVERTISEMENT

62 Ribu Siswa Bandung Terindikasi Gangguan Psikologis, Psikolog Soroti Faktor Kompleks

Di lokasi ini, sampah organik diolah menggunakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot. Metode ini dinilai lebih cepat dibandingkan pengomposan konvensional karena mampu mengurai sampah dalam waktu 3 hingga 7 hari.

Tak berhenti pada tahap pengolahan, sistem ini juga telah masuk ke tahap hilirisasi. Maggot dimanfaatkan sebagai pakan ternak, khususnya entok, sementara sisa pengolahan atau kasgot digunakan sebagai pupuk.

“Semua dimanfaatkan, mulai dari telur sampai bangkai lalat. Tidak ada yang terbuang,” kata Engkos.

Namun demikian, efektivitas sistem ini sangat bergantung pada kedisiplinan warga dalam memilah sampah sejak dari rumah. Engkos mengakui, kesadaran masyarakat di wilayahnya mulai terbentuk, meski belum merata.

Warga di sejumlah RW disebut telah terbiasa memisahkan sampah organik menggunakan wadah khusus sebelum diangkut petugas Gaslah ke lokasi pengolahan.

“Masyarakat sudah mulai sadar, tinggal diangkut saja. Tapi ini harus terus dijaga konsistensinya,” ujarnya.

Fakta ini menunjukkan bahwa keberhasilan program bukan hanya soal teknologi pengolahan, tetapi juga perubahan perilaku warga.

Meski menunjukkan progres, program ini tidak lepas dari persoalan. Pada tahap awal operasional, warga sempat mengeluhkan bau tidak sedap dari lokasi pengolahan.

Menurut Engkos, masalah tersebut dipicu oleh penumpukan sampah yang melebihi kapasitas serta pengelolaan air lindih yang belum optimal.

“Kemarin sempat overload, sampah ditumpuk pakai karung, itu yang menyebabkan bau,” ujarnya.

Sebagai respons, pengelola melakukan sejumlah perbaikan teknis, mulai dari penggunaan ember tertutup hingga penambahan bahan seperti ampas kelapa dan cairan eco enzyme untuk menekan bau.

Langkah tersebut dinilai cukup efektif, meski menjadi catatan bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat tetap membutuhkan pengawasan dan evaluasi berkelanjutan.

Published by

Recent Posts

Bed RSUD Garut Baru 1.183, Kebutuhan Ideal 2.900

KORAN MANDALA – Kapasitas pelayanan rumah sakit di Kabupaten Garut masih menghadapi tantangan besar. Dengan jumlah…

1 jam ago

Area Bermain Keropos dan Wastafel Kering, Fasilitas Taman Cempaka Dikeluhkan pengunjung

KORAN MANDALA – Sejumlah fasilitas di Taman Cempaka atau Taman Fotografi, Jalan Taman Cempaka, Kelurahan…

2 jam ago

Hendak ke Masjid, Motor Warga Malangbong Raib Dicuri

KORAN MANDALA –Niat berangkat ke masjid pada Minggu dini hari (18/10/2026) justru membuat seorang warga…

3 jam ago

Kabar Gembira Persib! Notsuda Kirim Sinyal Comeback

KORAN MANDALA – Persib Bandung mulai mendapat angin segar terkait kondisi gelandang asingnya, Gakuto Notsuda. Setelah…

4 jam ago

Berdiri Sejak 1881, Ponpes Sukamiskin Jadi Saksi Panjang Sejarah Santri di Kota Bandung

KORAN MANDALA –Pondok Pesantren Sukamiskin di Jalan A.H. Nasution Nomor 128, Kota Bandung, menyimpan perjalanan…

5 jam ago

Polresta Batang Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Kekerasan terhadap Rombongan Persib U-18

KORAN MANDALA – Penanganan kasus kekerasan, perusakan bus, dan pencurian yang menimpa rombongan Persib U-18 di…

6 jam ago