ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Peringatan Hari Peduli Autisme Sedunia atau World Autism Awareness Day yang jatuh setiap 2 April menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap penyandang autisme.
Kepala Sekolah Biruku Indonesia, Purnama Fransiska, menilai perhatian terhadap dunia autisme masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, pihaknya secara rutin menggelar kampanye tahunan guna mendorong kesadaran masyarakat.
“Setiap tahun kami melakukan kampanye, dimulai dari komunitas terkecil, dengan mewadahi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Terutama bagi mereka yang sudah selesai sekolah formal dan membutuhkan ruang untuk mengembangkan potensi,” ujar Fransiska saat ditemui, Kamis (2/4/2026).
ADVERTISEMENT
Sekolah Biruku Indonesia merupakan lembaga pendidikan nonformal di bawah naungan Yayasan Biruku Indonesia yang berfokus pada pembinaan, pengembangan minat dan bakat, serta terapi bagi penyandang disabilitas.
Didirikan pada 2017, lembaga ini kini menjadi wadah bagi sekitar 50 anak berkebutuhan khusus untuk belajar dan mengasah kemampuan mereka.
Fransiska menjelaskan, kampanye yang dilakukan tidak hanya sebatas sosialisasi, tetapi juga melalui kegiatan produktif. Anak-anak binaan dilibatkan dalam pembuatan berbagai produk yang memiliki nilai guna sekaligus estetika.
“Dalam setiap pameran atau kegiatan, hasil karya anak-anak dari kelas menggambar kami kembangkan menjadi produk seperti tumbler, outer, kerudung, hingga tempat tisu yang dapat digunakan dalam aktivitas sehari-hari,” katanya.
Selain kelas menggambar, Sekolah Biruku Indonesia juga menyediakan berbagai kelas minat dan bakat lain, seperti musik jimbe, vokal, modeling, dan komputer, yang dirancang sesuai kebutuhan peserta didik.
Sebagai puncak peringatan tahun ini, yayasan berencana menggelar kampanye khusus pada 4 April 2026 di lingkungan sekolah. Kegiatan ini bertujuan memperkuat solidaritas internal sekaligus memperkenalkan hasil pembinaan kepada masyarakat sekitar.
“Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa anak-anak penyandang disabilitas yang telah dibina dan mendapatkan terapi mampu beraktivitas di ruang publik,” ujar Fransiska.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






