ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Para pengemudi ojek online (ojol) di kawasan Jatinangor masih menunggu langkah konkret dari Universitas Padjadjaran (Unpad) terkait kebijakan akses masuk kampus, usai aksi protes yang mereka lakukan beberapa waktu lalu.
Sebagai respons awal, pihak kampus membuka kembali akses melalui Gerbang D atau Pintu Tugu Makalangan. Namun, kebijakan tersebut masih bersifat sementara dan akan diuji coba selama lima hari ke depan.
“Mudah-mudahan seterusnya akses masuk Gerbang D dibuka, jangan sampai usaha kami kemarin sia-sia,” ujar Reno (33), salah seorang pengemudi ojol di kawasan Unpad Jatinangor, Rabu (1/4/2026).
ADVERTISEMENT
Ojol di Bandung Keluhkan Belum Dapat Bonus Hari Raya, Sistem Peringkat Dinilai Menyulitkan
Sebelumnya, para pengemudi ojol menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Selasa (31/3/2026). Aksi tersebut dipicu kebijakan kampus yang memindahkan akses masuk ojol menyusul penerapan sistem gerbang berbasis kode QR melalui aplikasi SAUNPAD.
Reno menjelaskan, aturan tersebut mengharuskan ojol dan masyarakat umum masuk melalui Gerbang C. Kebijakan ini dinilai memberatkan karena jarak tempuh menjadi lebih jauh dibandingkan akses sebelumnya melalui Gerbang D.
“Kita harus memutar jauh. Dari segi jarak dan bahan bakar tentu menjadi kendala, makanya kemarin kami menyampaikan aspirasi,” katanya.
Ia menyebut, kebijakan pemindahan akses ini telah berjalan sekitar dua bulan tanpa sosialisasi yang memadai. Dampaknya, menurut Reno, muncul berbagai persoalan di lapangan, termasuk pelanggaran lalu lintas hingga kecelakaan.
Salah satu titik yang disoroti adalah simpang pangkalan Damri (Pangdam), di mana banyak pengemudi terpaksa melawan arus untuk mempersingkat jarak. Kondisi ini mendorong Dinas Perhubungan menutup akses putaran di lokasi tersebut, sehingga pengemudi harus memutar lebih jauh melalui jalan depan Samsat.
“Awal permasalahannya itu karena akses masuk dipindahkan,” ujarnya.
Para pengemudi berharap Unpad dapat membuka kembali akses Gerbang D secara permanen guna mengurangi dampak yang ditimbulkan. Mereka juga mengusulkan alternatif sistem akses selain aplikasi SAUNPAD yang saat ini hanya diperuntukkan bagi civitas akademika.
“Kalau bisa pakai e-money karena setiap driver punya. Kalau pakai aplikasi Unpad, kami tidak bisa masuk,” kata Reno.
Saat ini, perwakilan ojol masih melakukan koordinasi dengan pihak kampus untuk mencari solusi.
Sementara itu, Kepala Kantor Komunikasi Publik Unpad, Dandi Supriadi, menyatakan pihaknya belum dapat memastikan kebijakan yang akan diambil. Menurutnya, pembahasan masih berlangsung di internal kampus.
“Belum bisa saya informasikan karena masih dalam proses pembicaraan antara tim sarana prasarana dan Kantor Lingkungan. Ditunggu saja,” ujar Dandi saat dikonfirmasi.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






