ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Kematian dua anak harimau Benggala di Bandung Zoo tak sekadar menyisakan duka, tetapi juga memantik sorotan serius terhadap tata kelola dan komitmen perlindungan satwa.
Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) menilai, kematian Huru dan Hara bukan semata persoalan teknis akibat infeksi virus, melainkan cerminan dari krisis pengelolaan yang berlarut-larut.
Koordinator FK3I, Dedi Kurniawan, menyebut peristiwa ini sebagai konsekuensi dari konflik internal yang selama ini menyita perhatian pengelola dan pemerintah, hingga menggeser prioritas utama: kesejahteraan satwa.
ADVERTISEMENT
Dua Anak Harimau di Kebun Binatang Bandung Mati Akibat Virus, Pemkot Lakukan Evaluasi
“Kami sudah berulang kali mengingatkan agar konflik tidak mengorbankan hak hidup dan kesejahteraan satwa. Tapi yang terjadi justru sebaliknya,” ujar Dedi, Jumat (27/3/2026).
Konflik Berkepanjangan, Satwa Terpinggirkan
Menurut Dedi, sengketa pengelolaan yang berlangsung sekitar 1,5 tahun terakhir membuat energi para pihak tersedot pada urusan administratif—mulai dari penguasaan aset hingga legalitas operasional.
Di sisi lain, kebutuhan mendasar satwa seperti pakan, perawatan kesehatan, hingga pengawasan intensif justru dinilai terabaikan.
Situasi kian memburuk ketika operasional Bandung Zoo sempat dihentikan oleh Pemerintah Kota Bandung. Kebijakan itu berdampak langsung pada keterbatasan pendanaan.
Bahkan, kata Dedi, karyawan harus turun tangan menggalang donasi demi memastikan satwa tetap mendapat pakan dan perawatan di tengah krisis.
“Ini ironi. Di satu sisi ada konflik, di sisi lain satwa yang tidak punya suara justru menanggung akibatnya,” katanya.
Kematian yang Dinilai Bisa Dicegah
FK3I tidak menampik penyebab kematian Huru dan Hara adalah infeksi virus. Namun, Dedi menegaskan, risiko tersebut seharusnya dapat ditekan jika sejak awal ada penanganan optimal, terutama pada satwa rentan seperti bayi harimau.
“Huru dan Hara lahir di tengah situasi krisis. Justru di titik itu negara seharusnya hadir memberikan perhatian ekstra, bukan terlambat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti lambannya respons bantuan dari pemerintah pusat yang baru mengalir dalam sebulan terakhir, atau saat kondisi sudah memburuk.
Bukan Sekadar Pakan, Tapi Kesejahteraan Menyeluruh
Lebih jauh, FK3I mengingatkan bahwa kesejahteraan satwa tidak bisa direduksi hanya pada ketersediaan pakan. Aspek kesehatan fisik, lingkungan, hingga kondisi psikologis memegang peran krusial.
Dalam kondisi stres akibat lingkungan yang tidak stabil, sistem imun satwa dapat menurun drastis. Hal ini membuat satwa—terutama bayi—lebih rentan terhadap infeksi mematikan.
“Induk dan bayi itu butuh perlakuan khusus. Kalau situasi internal saja tidak kondusif, bagaimana perawatan bisa maksimal?” ujar Dedi.
Desak Transparansi dan Evaluasi Menyeluruh
Atas kejadian ini, FK3I berencana melakukan audiensi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat.
Mereka mendesak adanya transparansi terkait penyebab kematian dua harimau tersebut, sekaligus evaluasi menyeluruh terhadap kondisi satwa lain yang masih bertahan di kebun binatang tersebut.
“Jangan sampai ini bukan yang terakhir. Harus ada pembenahan serius,” tegasnya.
Pemerintah Sebut Sudah Maksimal
Sebelumnya, dua anak harimau Benggala berusia delapan bulan, Hara dan Huru, dilaporkan mati masing-masing pada Selasa (24/3/2026) dan Kamis (26/3/2026).
Humas BBKSDA Jawa Barat, Eri Mildranaya, menyatakan keduanya mati akibat infeksi virus panleukopenia yang dikenal sangat ganas, terutama pada satwa muda.
Ia menyebut, sebelum meninggal, kedua harimau telah mendapat penanganan intensif dari berbagai pihak, termasuk tim medis Rumah Sakit Hewan Cikole, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, BBKSDA, serta dokter hewan internal.
“Berbagai upaya sudah dilakukan secara maksimal, namun hasil akhirnya berkata lain,” ujar Eri.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






