ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Ono Surono, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kematian dua anak harimau Benggala di Bandung Zoo. Dua satwa bernama Huru dan Hara tersebut dilaporkan mati akibat terinfeksi virus panleukopenia.
Huru dan Hara diketahui merupakan koleksi Bandung Zoo yang lahir pada 12 Juli 2025. Kematian keduanya pun dinilai bukan sekadar insiden biasa, melainkan imbas dari persoalan pengelolaan yang telah berlangsung lama.
“Kematian kedua anak harimau ini bukan sekadar insiden biasa, tetapi sudah diprediksi jauh-jauh hari lantaran konflik pengelolaan Bandung Zoo yang berlarut-larut dan tidak adanya kepedulian dari pemerintah baik pusat maupun daerah,” kata Ono Surono dalam keterangannya, Kamis (26/3/2026).
ADVERTISEMENT
Menurut Ono, kondisi ini harus menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kota Bandung, Kementerian Kehutanan, serta pihak terkait lainnya. Ia menilai pengawasan dan tanggung jawab dalam pengelolaan kebun binatang tersebut belum berjalan optimal.
“Ada beberapa poin yang menjadi catatan. Pertama, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan seharusnya sejak awal bisa mengantisipasi dan memastikan seluruh hewan di Bandung Zoo terawat dengan baik, baik dari sisi pakan maupun kesehatannya. Namun, kenyataannya hal tersebut belum terlaksana,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peran kementerian yang dinilai belum maksimal dalam menjalankan fungsi pengawasan, termasuk masih adanya yayasan lama yang izinnya telah dicabut tetapi tetap terlibat dalam pengelolaan Bandung Zoo.
Kondisi tersebut, lanjut Ono, berdampak pada terbatasnya pendanaan yang hanya mengandalkan donasi masyarakat, sehingga berpengaruh terhadap kualitas perawatan dan pakan hewan.
“Dengan hanya mengandalkan donasi dari masyarakat yang terbatas akhirnya mengakibatkan penurunan kualitas perawatan dan pakan hewan. Hal itulah yang menjadi faktor kematian dua anak harimau Benggala ini,” jelasnya.
Ono juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat menawarkan solusi kerja sama perawatan satwa dengan kebun binatang lain, seperti Kebun Binatang Ragunan dan Kebun Binatang Surabaya.
“Saya sudah berkunjung pada Agustus 2025 dan membawa pesan serta tawaran kerja sama perawatan hewan, termasuk opsi pemindahan satwa. Namun, Wali Kota Bandung tidak merespons tawaran tersebut, Sekarang terbukti hasilnya, dua kematian harimau,” tambah Ono.
Ia pun mendesak agar pemerintah daerah, kementerian terkait, serta pengelola segera berkoordinasi untuk meningkatkan standar pemeliharaan satwa.
“Standar makanan, kebersihan kandang, dan pemeriksaan kesehatan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya agar tidak terjadi lagi kematian satwa langka lainnya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ono meminta langkah cepat, termasuk kemungkinan pemindahan satwa ke kebun binatang lain atau penggalangan dana guna memastikan kesejahteraan hewan.
“Jangan sampai kejadian ini terulang. Kementerian harus ambil langkah cepat, pindahkan seluruh hewan atau segera galang dana. Bila pemerintah tidak siap, maka masyarakat termasuk kami akan siap melakukannya,” tandasnya.
Sebelumnya, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengaku terpukul atas kejadian itu. Berdasarkan hasil pemeriksaan tim ahli, kedua anak harimau tersebut terinfeksi virus yang dalam sepekan terakhir berkembang cepat dan bersifat akut.
“Ini sangat memprihatinkan dan menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Meski panleukopenia tergolong virus yang umum, namun ketika menyerang kucing besar usia muda, tingkat fatalitasnya sangat tinggi,” ujar Farhan di Kebun Binatang Bandung, Kamis (26/3/2026).
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






