Daerah

Anak Harimau Mati di Kebun Binatang Bandung, Farhan: Terpapar Virus dari Induk Sejak Lahir

KORANMANDALA.COM – Kematian seekor anak harimau Benggala di Kebun Binatang Bandung memicu perhatian publik. Pemerintah Kota Bandung memastikan, kematian satwa bernama Huru (8 bulan) tersebut bukan akibat kelalaian perawatan, melainkan karena infeksi virus yang ditularkan dari induknya sejak lahir.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menjelaskan induk harimau diketahui sebagai carrier atau pembawa virus yang kemudian menular kepada anak-anaknya.

“Bukan karena tidak terawat, tapi karena virus yang dibawa induknya. Ini memang virus khas pada keluarga kucing besar,” ujar Farhan di Terminal Leuwipanjang, Rabu (25/3/2026).

ADVERTISEMENT

Pemkot Bandung Pastikan Kebun Binatang Belum Beroperasi saat Libur Lebaran 1447 H

Dua anak harimau, Huru dan Hara, lahir pada 12 Juli 2025 dari pasangan Sahrulkan dan Jelita. Dari keduanya, Huru dilaporkan mati, sementara Hara masih menjalani perawatan intensif.

Farhan menyebut virus yang menyerang adalah Feline Panleukopenia, penyakit yang dapat menyebabkan penurunan drastis sel darah putih sehingga melemahkan kondisi tubuh hewan secara signifikan.

Sejak awal, kedua anak harimau telah dipisahkan dari induknya sebagai bagian dari penanganan. Induknya sendiri tidak menunjukkan gejala karena telah memiliki kekebalan terhadap virus tersebut.

Saat ini, satu anak harimau yang tersisa masih dalam pengawasan ketat tim dokter hewan. Pemerintah mengklaim kondisinya mulai membaik setelah melewati fase kritis.

“Diare sudah berhenti, muntah juga tidak ada, dan kondisinya lebih aktif. Nafsu makan mulai kembali,” kata Farhan.

Penanganan dilakukan oleh tim yang terdiri dari lima dokter hewan dengan terapi intensif, meliputi pemberian antibiotik, anti-muntah, cairan rehidrasi, suplemen imun, hingga antivirus.

Farhan menegaskan, tidak ada unsur penelantaran dalam kasus ini. Namun, kejadian tersebut membuka ruang evaluasi terhadap sistem pengawasan kesehatan satwa, khususnya potensi penularan penyakit dari induk ke anak.

“Ini menjadi pelajaran penting. Penyakit seperti ini harus diantisipasi lebih dini, terutama di kebun binatang yang memiliki koleksi kucing besar,” ujarnya.

Meski demikian, kasus ini kembali menyoroti standar pengelolaan kesehatan satwa di lembaga konservasi. Penularan sejak lahir menandakan perlunya pengawasan lebih ketat terhadap kondisi indukan, termasuk deteksi dini penyakit menular sebelum proses reproduksi berlangsung.

Pemerintah menyatakan akan melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang, sekaligus memastikan kesejahteraan satwa di kebun binatang tetap terjaga.

Koranmandala.com

Recent Posts

Area Bermain Keropos dan Wastafel Kering, Fasilitas Taman Cempaka Dikeluhkan pengunjung

KORAN MANDALA – Sejumlah fasilitas di Taman Cempaka atau Taman Fotografi, Jalan Taman Cempaka, Kelurahan…

41 menit ago

Hendak ke Masjid, Motor Warga Malangbong Raib Dicuri

KORAN MANDALA –Niat berangkat ke masjid pada Minggu dini hari (18/10/2026) justru membuat seorang warga…

2 jam ago

Kabar Gembira Persib! Notsuda Kirim Sinyal Comeback

KORAN MANDALA – Persib Bandung mulai mendapat angin segar terkait kondisi gelandang asingnya, Gakuto Notsuda. Setelah…

2 jam ago

Berdiri Sejak 1881, Ponpes Sukamiskin Jadi Saksi Panjang Sejarah Santri di Kota Bandung

KORAN MANDALA –Pondok Pesantren Sukamiskin di Jalan A.H. Nasution Nomor 128, Kota Bandung, menyimpan perjalanan…

4 jam ago

Polresta Batang Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Kekerasan terhadap Rombongan Persib U-18

KORAN MANDALA – Penanganan kasus kekerasan, perusakan bus, dan pencurian yang menimpa rombongan Persib U-18 di…

5 jam ago

Pembakaran Water Barier dan Vandalisme Tugu Simpang Lima Warnai Aksi di Bandung

KORAN MANDALA – Aksi unjuk rasa memperingati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil…

15 jam ago