ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, sejumlah pedagang bedug musiman mulai bermunculan di beberapa ruas jalan di Kota Bandung. Namun, sebagian pedagang mengaku penjualan bedug pada Ramadan tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Rohman (40), salah satu pedagang bedug di kawasan Kiaracondong, mengatakan penjualan bedug pada Ramadan 2026 terbilang cukup sepi.
“Penjualan bedug sekarang sepi,” kata Rohman saat ditemui di lokasi lapaknya, Selasa (10/3/2026).
ADVERTISEMENT
PLN Bandung Sosialisasikan Keselamatan Instalasi Listrik Jelang Mudik Lebaran
Ia mengaku telah memajang bedug buatannya di depan kios sejak awal Ramadan. Namun hingga memasuki pertengahan bulan puasa, jumlah penjualan masih sangat terbatas.
“Dari awal Ramadan baru laku dua,” ujarnya.
Menurut Rohman, angka tersebut jauh menurun dibandingkan tahun lalu. Pada periode yang sama di Ramadan sebelumnya, ia mampu menjual lebih dari 10 unit bedug.
“Kalau tahun kemarin bisa sampai 10-an. Bedug kayu juga banyak yang terjual,” katanya.
Rohman menjual dua jenis bedug, yakni bedug berbahan drum dan bedug kayu. Bedug drum dibanderol sekitar Rp1,2 juta per unit, sementara bedug kayu dijual dengan harga lebih tinggi, yakni berkisar Rp6 juta hingga Rp8 juta.
Di tengah menurunnya penjualan, Rohman mengaku saat ini justru lebih banyak menerima permintaan servis bedug, seperti penggantian kulit.
Ia menilai menurunnya penjualan tidak hanya terjadi pada usaha bedug, tetapi juga dirasakan di sektor perdagangan lainnya.
“Kayaknya bukan di kita saja. Jualan baju juga sepi. Sepertinya memang daya beli masyarakat lagi turun,” katanya.
Penurunan penjualan serupa juga dirasakan Irwan (53), pedagang bedug yang telah menjalankan usaha ini sejak awal tahun 2000-an.
“Sekarang lesu, enggak seperti tahun-tahun kemarin,” ujar Irwan.
Ia mengatakan, meski masih ada permintaan, jumlahnya jauh lebih rendah dibandingkan Ramadan tahun lalu.
“Tahun ini baru terjual sekitar 20 unit. Padahal tahun lalu di pertengahan puasa sudah bisa sampai 50 lebih,” katanya.
Di lapaknya di pinggir jalan, Irwan menjual bedug berbahan drum dengan kisaran harga sekitar Rp1 juta per unit.
Menurut Irwan, salah satu penyebab menurunnya penjualan bedug adalah berkurangnya kegiatan masyarakat yang menggunakan alat musik tradisional tersebut, seperti takbir keliling atau kegiatan membangunkan sahur.
“Sekarang sudah jarang ada takbir keliling. Kegiatan sahur-sahuran juga mulai berkurang. Tahun kemarin masih terbantu sama parade bedug,” ujarnya.
Selain menjual secara langsung di pinggir jalan, Irwan juga mulai memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produknya. Cara tersebut dinilai cukup efektif untuk menjangkau pembeli dari luar kota.
“Pernah kirim sampai Subang, Karawang, sama Cianjur. Tinggal tambah ongkir saja,” katanya.
Irwan menambahkan, ia kembali menjalankan usaha bedug sejak 2023 setelah sempat berhenti berproduksi selama pandemi COVID-19.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






