ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Taman Film Bandung yang berada di bawah Jembatan Pasupati dulunya digadang-gadang sebagai simbol kebangkitan ruang publik kreatif di Kota Bandung.
Taman tematik ini diresmikan pada 2014 oleh Wali Kota Bandung saat itu, Ridwan Kamil, dengan konsep ruang terbuka yang memadukan rekreasi, edukasi, dan tontonan bersama melalui layar videotron raksasa.
Namun, lebih dari satu dekade berselang, wajah taman tersebut kini jauh dari kesan ikonik. Fasilitas rusak, kebersihan yang tak terjaga, serta minimnya pengawasan menjadi potret yang sulit diabaikan.
ADVERTISEMENT
Jadwal Buka Puasa Bandung 7 Ramadhan: Mode “Incognito” ke Langit
Pantauan Koran Mandala pada Rabu (25/2/2026) sore menunjukkan taman masih dimanfaatkan warga. Sejumlah ibu mendampingi anak bermain, mahasiswa mengerjakan tugas sambil menunggu waktu berbuka, dan beberapa pengunjung beristirahat di area rumput sintetis.
Akan tetapi, di balik aktivitas itu, kondisi fisik taman berbicara lain. Di beberapa sudut terlihat kotoran hewan, rumput sintetis terkelupas, pagar dipenuhi coretan vandalisme, serta aroma menyengat dari tumpukan sampah yang tak segera terangkut. Layar videotron berukuran 4×8 meter—yang dulu menjadi pusat kegiatan nonton bareng—kini mati dan terbengkalai, seolah menjadi simbol padamnya perhatian.
Fasilitas bermain anak pun menyusut. Dari tiga unit ayunan yang semula tersedia, kini tersisa dua. Tidak ada penjelasan resmi apakah pengurangan itu karena kerusakan atau pembongkaran tanpa penggantian.
Salah satu pengunjung, Inggi Dwi Cahya Ningsih (28), warga Andir, mengaku rutin datang bersama anaknya. Ia menilai persoalan utama justru pada fasilitas dasar yang seharusnya menjadi prioritas.

“Fasilitasnya sebenarnya bagus, tapi yang paling terasa itu toiletnya. Kebersihannya kurang terjaga, air mengalir sangat sedikit dan kadang ditutup. Kalau lagi ramai, orang tua yang bawa anak jadi bingung mau ke toilet ke mana,” ujarnya.
Ia juga menyoroti penurunan kualitas wahana bermain anak dari waktu ke waktu.
“Dulu kelihatannya ada tiga ayunan, talinya juga tiga. Tapi sekarang cuma dua. Rumput sintetisnya juga sudah banyak yang terkelupas,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Adi (20), mahasiswa yang memanfaatkan taman untuk belajar sambil ngabuburit. Menurutnya, fungsi taman sebagai ruang duduk dan berkumpul masih berjalan, tetapi tanpa perawatan rutin, kenyamanan publik perlahan tergerus.
“Tempatnya enak buat duduk dan ngerjain tugas. Tapi kalau fasilitas rusak dan kotor dibiarkan, orang jadi kurang nyaman,” ujarnya.
Sejumlah pengunjung mengaku jarang melihat petugas kebersihan maupun pengawasan rutin di area taman. Sampah bahkan disebut pernah menumpuk cukup lama sebelum tersedia tambahan tempat sampah.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: sejauh mana komitmen pemerintah kota dalam merawat ruang publik tematik yang dulu dibangun dengan anggaran dan semangat besar? Taman Film bukan sekadar taman, melainkan representasi kebijakan kota yang pernah dipromosikan sebagai model ruang publik kreatif.
Tanpa perawatan berkelanjutan, taman ini berisiko berubah dari simbol inovasi menjadi contoh kegagalan tata kelola. Pemerintah Kota Bandung perlu menjawab kritik ini dengan langkah konkret—mulai dari perbaikan fasilitas, penataan kebersihan, hingga pengawasan rutin—agar ruang publik tetap layak, aman, dan bermartabat bagi warganya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






