ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Tingginya jumlah kasus tuberkulosis (TBC) di Kota Bandung kerap dipersepsikan sebagai kegagalan pengendalian penyakit. Namun kalangan ahli menegaskan, angka temuan yang besar justru dapat mencerminkan program deteksi aktif berjalan efektif.
Ketua KOPI TB Kota Cimahi, dr. Ade Yudisman, mengatakan daerah yang agresif melakukan skrining biasanya melaporkan angka kasus lebih tinggi karena pasien yang sebelumnya tersembunyi berhasil ditemukan.
“Kalau satu daerah menemukan kasus TBC lebih banyak, jangan langsung dianggap gagal. Justru itu bisa berarti program penemuan kasusnya aktif dan pasien berhasil ditemukan untuk diobati,” ujar Ade, Minggu (22/2/2026).
ADVERTISEMENT
Jadwal Buka Puasa Bandung 6 Ramadhan: Log Out dari Ego, Log In ke Hati
Ia menjelaskan, wilayah yang melakukan pelacakan hingga tingkat keluarga dan komunitas akan menemukan lebih banyak penderita dibanding daerah dengan deteksi pasif yang hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan.
Padahal, tujuan utama pengendalian TBC adalah menemukan sebanyak mungkin kasus untuk memutus rantai penularan.
Data Dinas Kesehatan Kota Bandung mencatat 18.846 kasus TBC sepanjang 2025. Angka tersebut menjadikan Kota Bandung sebagai daerah dengan jumlah kasus tertinggi kedua di Jawa Barat.
“Di Bandung memang masih dikatakan kasusnya banyak, dan di Jawa Barat sendiri Bandung urutan kedua terbanyak,” ujar Dadan, merujuk pada data tersebut.
Ade menegaskan TBC merupakan penyakit menular kronis yang tidak dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan tuntas. Pasien yang tidak menjalani terapi lengkap tetap berpotensi menjadi sumber penularan di lingkungan sekitar.
“Semakin banyak kasus ditemukan dan diobati, rantai penularan akan menurun. Jadi angka temuan tinggi belum tentu angka penularannya tinggi, bisa jadi programnya memang bekerja,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui pengendalian TBC di Indonesia, termasuk di Bandung, masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Salah satunya keterbatasan alat diagnostik, seperti tes cepat molekuler yang belum tersedia merata di seluruh fasilitas kesehatan.
Selain itu, kesenjangan akses layanan di wilayah pinggiran kota dan pembaruan pengetahuan tenaga kesehatan terkait terapi terbaru juga dinilai memengaruhi kualitas penanganan.
“Ada fasilitas yang alatnya belum lengkap, ada tenaga kesehatan yang belum update terapi terbaru. Padahal penanganan TBC terus berkembang,” ujarnya.
Ade menekankan, keberhasilan eliminasi TBC tidak hanya bergantung pada sektor kesehatan. Dukungan lintas sektor diperlukan agar pasien dapat menjalani pengobatan tanpa stigma maupun diskriminasi, baik di sekolah maupun di tempat kerja.
“TBC itu bisa sembuh kalau diobati tuntas. Yang penting pasien ditemukan, diobati, dan didukung. Kalau itu berjalan, eliminasi bukan hal mustahil,” katanya.
Dengan beban kasus yang masih tinggi, penguatan deteksi aktif, peningkatan kualitas layanan diagnostik, serta edukasi publik dinilai menjadi kunci agar angka kasus tidak sekadar menjadi statistik, melainkan benar-benar berujung pada penurunan penularan di masyarakat.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






