ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Komunitas sosial Independent Solidarity Bandung merespons kebijakan pelarangan kegiatan sahur on the road (SOTR) yang diberlakukan aparat di Kota Bandung selama Ramadan 2026.
Founder Independent Solidarity, Aam Izzussalam, menyatakan pihaknya memahami alasan keamanan dan ketertiban di balik kebijakan tersebut. Ia menegaskan komunitasnya akan menyesuaikan format kegiatan agar tetap bermanfaat tanpa menimbulkan gangguan.
“Secara pribadi maupun sebagai komunitas, kami memahami imbauan dan kebijakan dari aparat karena tentu ada pertimbangan keamanan, ketertiban, dan kenyamanan masyarakat selama Ramadan. Kami menghormati kebijakan tersebut,” ujar Aam, Jumat (20/2/2026).
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, Kepala Satpol PP Kota Bandung Bambang Sukardi menegaskan larangan SOTR harus dipatuhi seluruh pihak.
“Ada sejumlah larangan yang harus dipatuhi. Intinya, tidak boleh melaksanakan sahur on the road,” katanya kepada awak media di Balai Kota Bandung, Kamis (19/2/2026).
Senada, Kapolrestabes Bandung Polrestabes Bandung Kombes Pol. Budi Sartono menyebut pelarangan tersebut didasarkan pada evaluasi tahun-tahun sebelumnya.
“Kami melarang kegiatan sahur on the road karena berpotensi menimbulkan gangguan kamtibmas, termasuk gesekan antar kelompok, konvoi kendaraan yang tidak tertib, hingga potensi tindak pidana kriminalitas lainnya,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Aam menjelaskan kegiatan SOTR yang selama ini dilakukan komunitasnya lahir dari semangat berbagi sahur kepada masyarakat di jalan. Namun, ia mengakui kegiatan sosial harus adaptif terhadap regulasi dan situasi yang berkembang.
“Kegiatan sosial harus menyesuaikan regulasi dan kondisi yang ada. Karena itu, teman-teman Independent Solidarity insyaallah tetap berkomitmen bergerak dalam kebaikan, dengan pendekatan yang lebih terkoordinasi dan adaptif,” katanya.
Ia menyebut pihaknya siap mengevaluasi format kegiatan Ramadan, termasuk kemungkinan mengubah konsep SOTR menjadi distribusi bantuan terpusat atau berkolaborasi dengan pihak kewilayahan agar lebih tertib dan terstruktur.
“Jika aktivitas seperti SOTR dinilai berpotensi mengganggu ketertiban, kami siap mengevaluasi format kegiatannya. Misalnya menjadi distribusi terpusat, kolaborasi dengan kelurahan, atau kegiatan sosial yang lebih terstruktur sesuai arahan aparat,” ujarnya.
Menurut Aam, yang terpenting bukanlah bentuk kegiatan, melainkan nilai solidaritas dan kepedulian sosial yang ingin terus dihidupkan selama Ramadan.
“Bagi kami yang utama bukan pada format kegiatan, tetapi nilai solidaritas dan kepedulian sosial yang ingin terus dijaga. Independent Solidarity tetap berkomitmen menjadi bagian dari solusi sosial, bukan sumber persoalan,” katanya.
Ia menambahkan, komunitasnya terbuka untuk berdialog dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah maupun aparat keamanan agar kegiatan sosial selama Ramadan tetap berjalan tertib, aman, dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






