Kamis, 26 Februari 2026 18:00

KORANMANDALA.COMRencana pembangunan Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami) di lahan kosong Kampung Pasirkaliki Barat, Kelurahan , Kecamatan Coblong, menuai catatan dari warga sekitar. Mereka berharap proyek hunian bersubsidi tersebut tetap memperhatikan dampak lingkungan, akses warga, serta fungsi sosial lahan yang selama ini digunakan masyarakat.

Tedi (49), warga setempat, mengatakan pada prinsipnya mendukung program pemerintah. Namun ia menyoroti persoalan banjir dan drainase di lokasi.

“Program pemerintah saya dukung. Cuma dampaknya, di sini sering banjir. Airnya dari depan ke belakang, tanahnya merah. Kalau hujan deras masuk ke rumah. Gorong-gorongnya enggak lancar, banyak yang tertutup,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).

Imlek Vihara Dharma Ramsi 2577 Tahun Kuda Api Dirayakan Khidmat di Bandung

Ia juga khawatir pembangunan rusun akan menimbulkan gangguan aktivitas warga, termasuk kebisingan bagi sekolah di sekitar lokasi serta akses jalan lingkungan. Selain itu, lahan tersebut selama ini menjadi ruang bermain anak-anak dan aktivitas olahraga warga.

“Biasanya tanah ini dipakai olahraga anak-anak, kadang main layangan. Kalau dibangun pasti saja ada pro kontra. Tapu kalau dari pemerintah ada penanganan yang sendiri tidak masalah, Namun Dampak ke depannya perlu diperhatikan,” katanya.

Hal senada disampaikan Iyan (44). Ia setuju dengan pembangunan rusunami, tetapi meminta agar prioritas diberikan kepada warga sekitar yang belum memiliki rumah.

“Kalau saya setuju saja, tapi diprioritaskan warga sini dulu. Banyak warga di sini juga belum punya rumah,” ujarnya.

Menurutnya, aspek ruang terbuka hijau (RTH) dan daya serap air perlu menjadi perhatian karena kawasan tersebut kerap dilanda banjir hingga ke wilayah bawah Sadang Serang. Ia juga berharap skema cicilan benar-benar terjangkau bagi warga berpenghasilan tidak tetap.

“Ruang terbuka hijau berapa persen? Serapan air perlu juga karena di sini suka banjir. Terus diperuntukkan untuk siapa harus jelas dan seleksi ketat. Cicilannya jangan terlalu mahal, karena banyak warga dengan pegawai serabutan,” ucapnya.

Sebelumnya, Wali Kota Muhammad Farhan menyampaikan harapan agar Kota Bandung memperoleh alokasi sekitar 1.000 unit rumah subsidi melalui skema kepemilikan, bukan relokasi.

Ia menegaskan hunian tersebut ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang belum memiliki rumah, dengan dukungan pembiayaan subsidi Tapera agar cicilan lebih ringan.

Farhan juga mengusulkan kelompok guru menjadi salah satu prioritas penerima karena lokasi rusunami berada di kawasan yang dikelilingi sekolah.

“Di sekitar sini banyak sekolah, jadi ekosistemnya mendukung. Guru akan kita prioritaskan supaya mereka bisa tinggal lebih tenang,” katanya.

Exit mobile version