KORANMANDALA.COM – Suasana khidmat menyelimuti Vihara Dharma Ramsi pada perayaan Tahun Baru Imlek 2577 yang jatuh hari ini, Selasa (17/2/2026). Sejak pagi, umat silih berganti datang untuk bersembahyang, sementara vihara tampil semarak dengan dominasi warna merah dan emas.
Aroma dupa langsung terasa saat memasuki area ibadah. Lampion merah bergelantungan rapi di langit-langit, sementara lilin-lilin besar berjajar di altar. Sejumlah pengurus masih merapikan dekorasi terakhir, memastikan seluruh sudut vihara siap menyambut puncak perayaan malam nanti.
Humas vihara, Erna Chen, mengatakan persiapan telah dilakukan jauh hari agar suasana Imlek benar-benar terasa. Seluruh lampu dan dekorasi dibersihkan, termasuk patung-patung dewa yang dipoles kembali.
Bullying Masih Marak di Bandung, DPRD Soroti Pengaruh Media Sosial hingga Lemahnya Pengawasan
“Dari tanggal 12 sudah kita bersihkan semua lampu dan patung. Pokoknya dekorasi supaya benar-benar Imlek,” ujarnya di lokasi.
Lilin raksasa berukuran 25 hingga 200 kati menjadi pusat perhatian. Lilin terbesar menjulang di antara lainnya dan dijadwalkan dinyalakan pukul 22.00 WIB malam tadi sebagai penanda pergantian tahun dalam tradisi Tionghoa.
Menurut Erna, arus umat sudah ramai sejak malam sebelumnya dan terus mengalir hingga hari ini. Jemaah tidak hanya berasal dari Bandung, tetapi juga dari luar kota seperti Jakarta. Ia menambahkan, setiap tahun persiapan selalu dievaluasi agar pelayanan dan kenyamanan umat semakin baik.
Pergantian menuju tahun Kuda Api dimaknai sebagai simbol keberanian dan semangat. Dalam kepercayaan Tionghoa, shio ini melambangkan daya juang serta harapan akan kesuksesan dan kesehatan.
“Harapannya di tahun Kuda Api ini semua diberi kesuksesan, kesehatan, dan kelancaran untuk seluruh masyarakat Indonesia,” tutur Erna.
Di antara umat yang bersembahyang, Rudi Hendra (49), warga Buahbatu, Bandung, tampak khidmat berdoa di depan rupang. Ia memaknai Imlek tahun ini sebagai titik balik harapan bagi kehidupan dan usahanya.
“Saya berdoa supaya ke depan usaha dilancarkan dan kehidupan lebih baik,” katanya.
Rudi juga berharap masyarakat Indonesia terus merawat kerukunan di tengah keberagaman. “Semoga semua umat beragama hidup damai dan rukun,” ujarnya.
Tahun ini, ia merayakan Imlek secara sederhana karena keluarganya masih dalam masa duka. Dalam tradisi Tionghoa, keluarga yang ditinggalkan anggota yang wafat kurang dari setahun biasanya tidak merayakan secara meriah.
Meski begitu, tradisi tetap dijalankan. Kue keranjang disiapkan sebagai hidangan utama, disertai jeruk dan aneka manisan. Sebagian kudapan dinikmati bersama keluarga, sebagian dibagikan kepada kerabat dan tetangga sebagai simbol keberuntungan dan kebersamaan pada Tahun Baru Imlek.
